expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Kamis, 23 Mei 2013

02 ~ 2013

Sore hari itu, dua orang pemuda sedang nongkrong dipinggir lapangan bola. Mereka duduk saling berdekatan bagaikan sepasang homo, walau sebenarnya tidak. Tapi begitulah yang banyak terbayang dikepala anak-anak lain saat memandangi Jimmy dan Hendro yang sedang asik mengobrol itu.

"Jim, gue ditolak sama si Devi. Katanya muka gue jelek... dia malu jalan sama gua."

Jimmy menepuk pundak sahabatnya,"Oh, dia engga sadar kalau dia juga mukanya cuma modal didempul bedak doang? Tenang, Dro.. Gua juga masih jomblo, gue temenin lo kok."

"Tapi lu beda Jim sama gue! Lu jomblo karena lu emang mau jomblo, padahal banyak cewek yang suka sama lu gitu!!" kata Hendro sambil mengerutkan bibir.

"Ha? Enggaklah, itu cuma gossip aja yang dilebih-lebihin. Gua gak se populer itu, lagipula kerjaan gua tiap hari kan berantem... mana mungkin cewek suka ama anak berandalan? Gue juga pernah berkali-kali ditolak cewek tau ga lu? Haha," jawab Jimmy sambil tersenyum kecil.

"Cewek-cewek dikelas kita juga tau, muka lu tuh paling mulus cakep kayak artis Jepang yang rada "cantik" gitu cowoknya."

"Terus elu enggak?" Tanya Jimmy sembari memandang tajam kearah Hendro.

"Iya, muka gua jelek"

"Kata siapa?" Balas Jimmy.

Hendro menunduk sambil menjawab,"Gua ngerasa gitu, idung gue gede lebar! Si Devi juga bilang muka gua jerawatan parah jadi ga enak dilihat."

"Lu gak tau, dulu pas gua kecil, kakek gua sendiri ngejekin gua. Dia kecewa ortu gua punya anak laki yang tampangnya kayak cewek, dibilang gua gak jantan... gue dianggep kayak bencong kali sama mereka. Satu keluarga besar gua ngetawain penampilan gua!"

"Wew, sakit dong rasanya? Keluarga lu kok gitu?"

"Ya, kan gua sering bilang, enggak semua orang bisa nerima lu. Mau lu jadi sehebat apapun, secakep apapun, pasti ada aja orang yang enggak suka sama lu. Lu punya badan bagus langsing, mereka bilang lu jelek karena kekurusan, dan waktu badanlu chubby gitu mereka bakal teriakin lu gendut!"

Hendro mengangguk sedikit sambil mengelus dagunya, "Hmmm.."

"Udah, lupain Devi. Buat apa lu kejer orang yang enggak cocok sama lu? Bisa-bisa lu stress sendiri nanti klo misal lu jadian juga?!"

"Ya...okelah, gua bakal coba move on.."

Jimmy memandang beberapa anak bertubuh tinggi dari kejauhan sedang berjalan kearahnya dengan gaya berandalan siap tempur, ia segera berdiri sambil merapikan seragam celananya yang sedikit kucal. Jimmy tersenyum dan berkata,"Enggak semua orang bisa menerima kondisi lu apa adanya. Mereka bisa nganggap remeh dirilu, mereka boleh bilang lu gendut, lu pendek, atau lu kayak banci. Tapi yang penting lu harus bisa menghargai dirilu sendiri. Karena lu punya keunikan sendiri!"

"Dan inilah keunikan gue, walau banyak juga yang anggep ini kekurangan gua sih..." Lanjut Jimmy sambil beranjak pergi.

Hendro hanya melongo memandangi sahabatnya yang dengan penuh semangat berkelahi melawan empat orang senior berandalan di sekolah Blue Eagle itu.

Sosok Jimmy yang biasanya mencerminkan seorang pemuda lemah lembut dan berwajah cantik, kini berganti dengan sosok anak garang dan lincah.


"Keparat ini bocah!" Jerit seorang anak yang bibirnya berdarah setelah terkena tendangan si Jimmy. Ia menendang kearah pemuda cantik itu namun kakinya tiba-tiba terasa nyeri luar biasa karena lebih dulu terhantam tendangan lawan. Tanpa bisa dielakkan lagi, tubuhnya terjelembab ke tanah empuk.

Setelah menjatuhkan orang pertama, Jimmy memutar badan sambil melancarkan tendangan tumit kaki kanannya dan berhasil menghantam ulu hati seorang anak yang bertubuh kurus kering. Ia pun terjatuh tergeletak pingsan.

"Sisa satu!" Kata Jimmy sambil tersenyum girang penuh kemenangan. Ia menatap lawan terakhirnya yang telah siap dengan pisau lipat ditangan kanan.

"Lu siap-siap mati, Jim! Lu yang maksa gua pake senjata!!"

Jimmy tidak bergerak sedikitpun sambil memperhatikan lawan.

Anak berkacamata ini bertubuh cukup tinggi, namun kurus kering. "Dia cuma nekat, dia belum biasa pakai pisau lipat itu buat nusuk orang. Dia cuma menggertak gua sih rasanya." Pikir Jimmy.

Jimmy menahan nafas, jarak diantara mereka kurang dari dua meter. Dalam satu serangan cepat  ia berencana untuk menendang tangan kanan lawan.... Tetapi pisau kecil ditangan lawan itu terus mengganggu konsentrasinya.







``````````````````````

Tidak ada komentar: