expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Serial Atse I

(Cerpen Untuk Lomba dulu saat kelas 2 SMA, hoki dapet juara cerpen cerita favorit)


 


Perhatian !!!
  1. Mohon dimaafkan bila ada kata-kata yang salah
  2. Mohon ditertawakan bila lucu
  3. Cerita ini adalah kisah fiksi, seluruh tokoh di dalamnya adalah tokoh karangan  
Selamat membaca !
============================================================================
Serial Atse I
============================================================================
============================================================================
Pada hari Jumat sore itu angin berhembus dengan lembut, membelai dedaunan pohon-pohon di taman. Seorang pelajar laki-laki memandangi buku harian kecilnya sembari duduk dibawah pohon palem yang lebat daunnya. Ia memakai baju seragam berwarna putih yang sudah terlihat kusam. Ia bernama Atse, seorang pelajar di sekolah Polli College yang berada di desa Polli. Di desa tersebut ilmu beladiri sangatlah terkenal,karena ada sekolah khusus pendekar yang bernama Sekolah Pendekar Harapan. Dua sekolah yang terkenal di desa adalah sekolah Polli College yang menghasilkan banyak pelajar pintar dan Sekolah Pendekar Harapan yang banyak menghasilkan petarung beladiri yang handal. Di desa itu pendekar dan pelajar saling bekerja sama untuk kehidupan sehari-harinya.
Atse adalah tokoh utama di cerpen aneh ini. Ia cukup tinggi, model rambutnya yang hitam berubah-ubah setiap hari, postur tubuhnya cukup gemuk. Atse bukanlah anak yang hebat, kemampuannya biasa-biasa saja, ia tak bisa ilmu beladiri karena ia adalah seorang pelajar bukan pendekar. Rata-rata nilai akademisnya juga bisa dibilang cukup “sangat buruk” .
Tetapi ia memiliki satu karakteristik yang jarang dimiliki oleh orang lain, yaitu rasa percaya diri yang tinggi. Sayang sekali dia seringkali terlalu percaya diri dan membuat masalah yang menjatuhkan dirinya sendiri, seperti yang baru saja dilakukannya minggu ini. Dia merasa frustasi karena dipecundangi beberapa orang temannya. Bukan karena temannya yang jahat, tetapi salah dia sendiri yang nekat menantang temannya dalam satu minggu itu.
———————————————————————————————————————————-
Berikut ini adalah jadwal yang tertulis di buku harian miliknya:
JADWAL SANG JAGOAN MINGGU INI:
1. Senin = Menantang ahli panco si Jhe-Ez
2. Selasa = Menantang Tepei sang master gitar
3. Rabu = Menantang Vogel adu bulutangkis( 1vs1)
4. Kamis = Menantang Dede adu gambar komik
5. Jumat = Menantang Brolly main futsal ( 1 vs 1 adu pinalti, Aku sebagai kipernya)
Dan di halaman berikutnya tertulis:
Senin, 19 Oktober
Dear diary,
Hari ini aku sedih banget!!! Tadi aku abis nantangin cewek macho yang sangat kuat di kelas aku untuk adu panco … namanya si Jhe-Ez
Tetapi sayangnya belum satu menit, aku kalah tiga kali !!!! Rasanya tanganku mau patah nih. Besok aku akan menantang dewa gitar di sekolah, si Tepei… tapi kalau tanganku sakit begini gimana aku mau adu gitar lawan dia? Tapi gak apa-apa , aku pasti menang! Dia bukan siapa-siapa dibandingkan diriku yang hebat ini.
——————————————————————————————————————–
Selasa,20 Oktober
Dear diary,
Hahahahahaha!!! Si Tepei gak masuk sekolah hari ini . Sudah kuduga, dia pasti takut kalah adu main gitar sama aku. Aduh aduh… gak seru ah !
Tapi tidak apa-apa, lain kali aku akan menantangnya lagi. Luka di tanganku bekas adu panco kemarin sekarang sudah sembuh. Besok aku harus menggunakan tanganku lagi untuk menantang sang “pangeran bulutangkis” yang bernama Vogel. Selama ini dia terkenal dengan smash kilatan cahaya miliknya.
Kabarnya, sekali dia mengeluarkan smash andalannya, musuh tak ada yang berkutik dan akan dikalahkan dengan skor yang telak . Tetapi aku akan menghancurkannya besok, tampaknya dia tak sekuat yang dibicarakan teman-teman di sekolah.
———————————————————————————————————————————
Rabu,21 Oktober
Dear Diary,
Hari ini adalah hari terburuk di dunia. Dia kuat sekali !!!
Aku dibabat habis dengan skor 21-4. Vogel memang dewa bulutangkis!!! Koknya bagaikan kilat, hanya terdengar suara whuzzzz, lalu koknya hilang dan tiba-tiba sudah mengenai kepalaku. “Hahaha, kau konyol sekali Atse!! Dengan kemampuanmu yang seperti itu, berlatih 100 tahun juga tak akan bisa mengalahkan aku!! Kau salah memilih lawan! “
Aku malu sekali dan marah!!! Grrrrrrrrrrrrrrrr!!!!!!!
—————————————————————————————————————–
Kamis,22 Oktober
Dear Diary,
Hari ini aku duel gambar komik dengan si Dede! Tau gak hasilnya?? Siapa yang menang??
Yang MENANGgungmalu adalah aku!!
Besok 1 on 1 main futsal sama Brolly harus menang!!! Ciayoooo Atse!!!!
————————————————————————————————————-
Jumat,23 Oktober
Diary,
Hari ini aku luka fisik dan batin. Tadi aku 1 on 1 sama si Brolly, dengan disaksikan seluruh teman-teman kelasku dan guru olahraga pak William dan guru magang dari Universitas Pillo . Saat aku 1 on 1 dengan brolly sungguh menegangkan dan menyebalkan! Dia berlari kearah gawangku dengan kencang, aku pun bersiap untuk menghalanginya dan melancarkan tackle keras andalanku.
Tetapi Brolly tidak takut, dengan skill seorang pemain bola sekolahan kelas tinggi, dia memutar badannya dan berusaha mengecohku, aku yang tadi sudah melancarkan tackle dengan cepat berdiri kembali tetapi bolanya sudah ditendang….
Bhuakkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!
Suara yang keras terdengar karena bola yang ia tendang mengenai “anu” ku dan akhirnya masuk kedalam gawang…..
Diary, kamu pasti tahu perasaanku sekarang…..
==========================================================================
“Argh!!!!! Ini tidak akan terulang lagi!!! Ini salahku! Harus introspeksi diri!!!” Keluh Atse yang baru saja melempar buku hariannya ke kursi kayu di taman itu. Suasana hatinya sedang kacau, bagaikan kota Padang yang kacau akibat gempa besar. Rasa percaya dirinya yang berlebihan telah menghancurkan harga dirinya sendiri. Tiba-tiba, terdengar suara handphone murah miliknya berdering dengan ringtone yang keras melengking. Seorang temannya yang bernama Gin menelponnya.
Atse menjawab teleponnya dengan nada lemas,“Halo, ini siapa yah?”
“Halo! Ini Atse? Ini Gin. Kau harus datang ke rumahku segera! Aku baru saja menemukan sesuatu yang sangat hebat!!”
“Kau bergurau ? Hebat gimana?”
“Aku baru saja menemukan suatu game yang sangat asik! Kalau kamu main, dijamin ketagihan sampai mati!!!! game online Pon Bleng !!! Game yang mirip Konter Strek, Tapi versi Onlinenya nih! Gila seru banget, sini deh ke rumah aku, ambil installernya dan bawa pulang install di komputermu.”
Dengan bersemangat Atse menjawab,“Oke deh, thanks ya! Aku segera pergi ke rumahmu!”
Gin dan Atse belajar di sekolah yang berbeda. Gin bersekolah di Sekolah Pendekar Harapan. Walaupun begitu, mereka berdua telah menjadi sahabat baik sejak mereka duduk di kelas tiga SD (Singkatan dari Sekolah Dasar di Polli College, namun di Sekolah Pendekar Harapan, SD adalah singkatan dari Silat Dasar). Bermodalkan sedikit semangat yang tersisa didalam tubuhnya, Atse berlari kearah rumah Gin yang berjarak kira-kira tiga li (1,5 kilometer) dari rumahnya hanya untuk meminjam sekeping DVD installer Pon Bleng Online. Saat ia berlari, angin sore hari yang lembut sekaligus sejuk perlahan-lahan datang membelai-belai dirinya, seakan-akan memberinya dukungan dan semangat.

Ditengah perjalanan Atse pada sore hari yang sunyi, dari kejauhan terlihat empat orang anggota geng berandalan yang hendak menculik seorang gadis kecil (kira-kira berumur duabelas tahun). Gadis itu memakai baju berwarna pink, dengan rambut diikat kebelakang. Sosok empat orang berandalan tersebut cukup menyeramkan, salah satu diantara mereka yang tampaknya ketua dari geng tersebut memakai bandana berwarna merah, dengan muka kotak yang terlihat garang. Sedangkan anak buahnya memiliki sosok yang tak kalah menyeramkan, dengan tinggi kira-kira 170 sentimeter dan membawa pentungan kayu. Diantara mereka ada satu orang yang berpenampilan paling mencolok, rambut berwarna hijau dengan model jabrik ala punk, dan memakai baju rocker.
“Ha ha ha ha!!! kami akan membuatmu menyesal karena telah lahir di dunia ini!!” bentak salah seorang dari berandalan tersebut.
“Tidak!! Jangan!! Jangan aku!! Apa salahku? Hiks hiks hiks.” Gadis itu menangis ketakutan.
Ia terjatuh lemas karena rasa takut yang membuatnya tak berdaya. Tiba-tiba dari kejauhan, terdengar seseorang berteriak dengan nada yang sedikit tinggi seperti suara wanita, dan suaranya terdengar sedikit fals.
“Hei !! Jangan ganggu dia, kalau masih mau makan nasi!!!!!!!” teriak Atse.

“Aduh-aduh, ikan teri dari mana ini… sok jagoan mau nantangin kita-kita! Ayo teman-teman, kita habisi ikan teri ini dulu!!! “. Empat orang penjahat itu berlari kearah Atse dengan kencang dan bersiap untuk mengayunkan pentungan kayu milik mereka…. “Hiaaaaaaaaaaaaaat!!!!!!!!!”

Dalam hatinya, Atse merasa diselubungi oleh ketakutan, dan ia berpikir sejenak,” Aduh, lagi-lagi aku terlalu nekad.. apakah aku akan mati sekarang?”
“Kalau aku harus mati sekarang, kalian akan kubawa bersamaku, Ciaaaaaaaaaat!!!!!” Teriak Atse.
“Berani sekali kau anak tengik! Mati kau!!!!”
Sang bos geng sendiri yang maju dan menyerang Atse dengan mengayunkan pentungan kayunya dengan cepat. Atse menahannya dengan tangan kirinya. Terdengar bunyi “Bhuk” … Tampaknya Atse mulai kesakitan, ia melangkah mundur dan mencoba untuk melancarkan serangan balasan. Ia mengepal tangan kanannya dan saat sang bos melancarkan serangan pentungan kayu berikutnya yang mematikan, Atse menunduk, sedikit menekuk kakinya dan membenamkan tinju dari tangan kanannya yang lemah di daerah terlarang sang bos. Tinjunya membuahkan efek yang menguntungkan baginya.

“Arggghhh!! Sial ! Awas kau, kurang ajar… ” Si bos geng tersebut marah sekali, ia berniat untuk membalas pukulan tersebut tetapi tubuhnya menjadi lemas karena terkena telak di daerah terlarang miliknya.
“Hei kalian bertiga jangan diam saja, cepat habisi anak ingusan ini untukku… !!!!!” Perintah si bos dengan emosinya yang meledak-ledak.
Dalam sekejap, kondisi berbalik, Atse terdesak karena digempur pukulan dan tendangan keras dari tiga orang, mulutnya mengeluarkan darah…. tubuhnya mulai memar-memar karena diserang terus menerus. Tiga orang anggota geng berandalan itu membuat formasi kepungan yang tak memberi Atse celah untuk menyerang maupun bertahan, mereka melancarkan pukulan dashyat dengan pemukul kayunya dari tiga arah. Atse mulai merasa dirinya semakin menuju kekalahan karena diserang tanpa henti. Akhirnya salah seorang dari geng tersebut memukul punggungnya dengan sangat keras.. Bhuakkkk!!!!! ”Arh…”, Atse merintih sesaat, lalu terjatuh pingsan karena rasa sakit yang tak tertahankan. Anak gadis kecil yang tadi sudah berlari menjauh, berharap mencari bantuan.

“Bos!! Anak gadis yang tadi lari bos!!! Biar saya kejar ya?” Tanya seorang dari mereka.
“Yah tentu saja!!! Bodoh kamu, masih harus nanya? Cepat sana kejar dia, biar aku yang mengurus anak ingusan ini.” Lalu mereka berlari meninggalkan bos mereka . “Sekarang adalah saat yang sangat aku nanti-nantikan! Hahahaha. Aku sangat suka menyiksa orang lemah yang sok jagoan! Mati kau!!!” Teriak si bos.
“Ngomong sama siapa kakak? Lawanmu kan sudah pingsan, apa kau kira dia mendengar suaramu yang fals itu?” Tiba-tiba sesosok teman Atse yang sudah tidak asing lagi muncul di belakang si bos berandalan. Itu adalah Gin, seorang yang cukup tinggi, dengan rambut tebalnya sedikit mirip seperti mangkok, dan muka bulat ala Zhou Run Fat. Ia memakai baju kaos T-shirt Giordano polos berwarna putih yang bercahaya sangat terang karena tersinari oleh matahari di sore hari.
“Sial sekali aku!!!! Satu pengganggu sudah kalah, muncul pengganggu yang lainnya!! Kalau begitu kau akan kuantar menemaninya untuk pergi menemui Penciptamu !!!!” Bentak si bos sembari berlari kearah Gin dengan mengayun-ayunkan pemukul kayunya. Ternyata Gin juga tak kalah persiapan senjata, ia telah membawa sebuah tongkat bambu untuk menandingi senjata lawannya. Mereka berdua pun beradu ilmu dengan sengit. Trak! Trok! Trak! Kedua senjata kayu saling bertemu dan mengeluarkan bunyi yang cukup keras. Sesaat terlihat mereka berdua seimbang, tiba-tiba Gin memasang kuda-kuda aneh . Dengan cepat si bos yang terkejut mundur beberapa langkah. Gin membayangkan bahwa tongkat bambu yang ia pegang adalah pedang kendo. Ia berniat untuk tidak memberi waktu untuk mengambil nafas kepada lawannya, dengan segenap kekuatan fisik dan batin miliknya, ia menerjang secepat kilat kearah si bos lalu memukul lutut si bos dengan kekuatan penuh. Bhuakk!!!!!!! !!!! Si bos merintih dan terjatuh kesakitan. Sementara itu Gin yang merasa menang berpose aneh dengan gaya membelakangi lawannya yang sedang terjatuh dan memutar-mutar tongkat bambunya dengan satu tangan seperti di serial Final Fantasy.

“Kau !!!! Kau Terlalu !!!!” Si bos memaki- maki kecil, dan diam-diam ia mencabut pisau lipat dari kantong celananya dan mengendap-endap seperti ular kearah Gin yang masih asik berpose kemenangan . Tiba-tiba si bos kembali berdiri dan mengayunkan pisau lipatnya yang sangat mematikan kearah leher Gin. Gin yang tampaknya sedang merasa menang itu rupanya telah mempersiapkan langkah untuk mengantisipasi serangan susulan si bos. Dengan cepat ia memutar badannya dan menunduk sedikit untuk menghindari serangan si bos.
Zrashhhhhhhhh!!! Terdengar suara pisau membelah udara dan rambut di kepala bagian atas milik Gin. Segenggam rambut milik Gin berhamburan bagaikan bunga sakura yang berguguran. “Ancoool!!! Curang sekali kau pakai pisau!! Rambutku!!!! Tidak !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! “ Seru Gin dengan sangat marah.

Ia memukul tangan si bos yang sedang menggenggam pisau. Dan disusul oleh tusukan-tusukan tongkat bambu mematikan bagaikan tongkat kera sakti. Sebagian dari tusukan tongkat bambu milik Gin mengenai bagian perut dengan telak. Dalam sekejap si bos berandalan jatuh terjelembab ke tanah. Gin sama sekali tidak merasa senang atas kemenangan ini, sebaliknya ia merasa sangat sedih karena rambut-rambutnya berguguran. Kehilangan rambut bagaikan kehilangan separuh nafas bagi Gin. Tanpa pikir panjang lagi, Gin membawa Atse ke rumahnya di dekat sana.

Sementara itu, si gadis kecil yang tadi masih berlari karena dikejar oleh tiga orang berandalan. Ia berlari tanpa arah yang pasti. Di dalam hatinya yang mendalam ada rasa takut yang terus menghantuinya, tetapi baru saja muncul semangat. Semangat yang berbeda, yang memberinya kekuatan baru. Semangat yang muncul karena ia baru saja tertolong oleh seorang pemuda, sang tokoh utama dari cerpen aneh ini.Ia melirik kebelakang sesaat , tiga orang berandalan masih mengejarnya dengan agresif. Tanpa sadar mereka sudah berlari sangat jauh . Si gadis memandang lurus kedepan, dan dilihatnya jalan penuh dengan rumput-rumput lebat dan semak berduri yang menghambat larinya. Sesaat, sesuatu ingatan muncul di dalam kepalanya. Di depan sana seharusnya ada pos satpam, di dekat perumahan “Timun Sendawa Gelap”.

Tetapi ia sudah tidak kuat lagi, sekujur kakinya mulai terasa lemas, dan ia mulai kehabisan nafas. Terlintas bayangan ibunya yang hangat, yang akan memeluknya saat ia berhasil pulang nanti. Tetapi apakah ia sanggup lari dari tiga orang berandalan itu? Di sore hari yang sepi, sama sekali tidak ada orang yang hilir mudik di sana. Air mata mulai mengalir ke pipinya, ia sudah tidak kuat lagi.
Dengan hati yang pasrah ia terjatuh ke tanah. Hal terakhir yang dapat ia lakukan adalah….. berdoa . Dalam hatinya yang penuh oleh ketakutan dan kesedihan, ia mulai berkata kepada Tuhan, meminta tolong dengan segenap hatinya. Bibirnya yang mungil bergetar sesaat, mengucapkan kata-kata dengan suara kecilnya,”Oh Tuhan, sepertinya aku sudah dekat dengan kematian. Kuatkan aku Tuhan”.
Karena tergugah hatinya, sang penulis cerpen pun bertindak sendiri, dengan terharu ia mengubah jalan cerita cerpen aneh ini.

Saat tiga orang gerombolan itu hendak memukuli si gadis kecil, angin berhembus kencang. Rambut si gadis yang tertiup angin, terlihat sungguh indah dengan wajahnya yang cantik. Seorang dari gerombolan itu berkata,” Kau sungguh malang sekali, kau harus ………”
Whooooooooooshhh!!! Getaran udara ditambah angin kencang misterius menabrak berandalan yang baru saja bicara, Ia jatuh terperosok ke semak-semak. Mukanya yang lebar terluka karena tergesek oleh duri yang berada di semak-semak. Dua orang temannya kaget setengah hidup. Mereka mencari dimana sumber angin misterius itu berhembus. Mereka tak perlu mencarinya lagi, seorang remaja perempuan yang memiliki wajah oriental muncul di hadapan mereka semua, tubuhnya sedikit pendek, memakai jubah lengan panjang berwarna kuning ala kaisar Cina. Gerakannya bagaikan angsa yang membuka sayapnya lebar-lebar. Itu adalah ilmu Tai-Chi. Dua orang berandalan yang tersisa merasa sangat terkejut dan hendak lari menyelamatkan diri.

“Gila! Ilmu apa itu? Ayo kita lari sebelum kita jadi korban berikutnya“,kata seorang berandalan yang berambut punk yang ketakutan. Saat mereka berdua berniat lari dari sana, sang pendekar tai chi misterius itu tidak menghalangi mereka. Ternyata memang ia tidak berniat untuk menggunakan kekerasan untuk memperoleh kemenangan mutlak. Dengan ramah sang pendekar Tai Chi berkata kepada si gadis kecil,”Rumahmu dimana dik?”
Si gadis kecil sungguh merasa berterima kasih, dengan mata yang berkaca- kaca ia memandang ke arah muka sang pendekar sejenak, lalu berkata pelan,” Rumah saya di dekat sekolah Polli College, tetapi saya diculik oleh sekawanan berandalan yang tampaknya diutus oleh saingan bisnis papaku, untung saja kakak menyelamatkanku.”

“Oooo, memangnya papamu kerja apa dik, kalau kakak boleh tahu?” Tanya sang pendekar dengan suara yang tidak seperti biasanya ia gunakan di sekolah. Si gadis kecil dengan sedikit malu-malu berkata,“Papaku adalah pemilik restoran Pondok MIYABI yang terkenal itu”

“Apa??????!!!!!!” Seru si pendekar yang jantungnya hampir copot karena sangat kaget. “Jangan main-main kamu! Gak lucu tahu!!” Sekarang watak sang pendekar benar-benar mirip seperti watak aslinya saat di sekolahan. Dengan ketakutan si gadis menjelaskan,”Bukan MIYABI yang itu kakak, tetapi MIYABI adalah singkatan dari nama restoran papaku yaitu Mie aYAm baBi”. “Sang pendekar pun merasa sangat malu karena telah salah persepsi. Lalu ia menutupi mulutnya dengan tangan kanannya dan menahan tawanya sendiri karena malu. “Kwkwkwkwk-kawkwawkwakawkwaka, maafkan kakak yang sudah salah persepsi yah….”

Untuk menahan tawa, sang pendekar merubah arah pembicaraan dan bertanya,”Ngomong-ngomong dimana papamu sekarang? Bagaimana dengan rumahmu, masih amankah kau tinggal disana?” Lalu si gadis berkata dengan polosnya,” Kata orang tua aku, enggak boleh cerita banyak sama orang yang tak dikenal, kan aku belum tahu nama kakak, kasih tau nama kakak dulu dong!”

“Aduh, jadi ribet nih”, sang pendekar bergumam sejenak, “Oke deh, nama saya Chun Mi, saya sudah cukup lama tinggal di Indonesia,saya datang dari Hongkong, dan saya sekolah di…..
“Wow!!!!! Chun Li dari “Street Fighter” ? kakak pacarnya Ryu ?” Si gadis memotong pembicaraan sang pendekar dengan asiknya. “Woi!!!!Kalau orang ngomong dengerin dulu dong!!!!!!!!! Saya bukan Chun Li bukan street fighter, saya Chun Mi ! Bisa diem gak siiih kalau orang lagi ngomong???!!!!!!” Tanpa sadar, sang pendekar emosi lagi. Si gadis menunduk sedih, dalam hatinya ia berkata,” Santai dong kakak”.

Setelah hati Chun Mi kembali tenang, si gadis kecil mulai bercerita tentang seorang pemuda yang berusaha menyelamatkannya tetapi gagal karena dikeroyok tiga orang geng berandalan. Saat itu si gadis segera lari berusaha menyelamatkan diri dan sekalian mencari bantuan, tetapi jaraknya terlalu jauh bagi seorang gadis kecil rumahan untuk mencari bantuan ke pos satpam yang berjarak kira-kira empat li (2 kilometer). Ditambah lagi kondisi jalanan yang sangat buruk karena ditumbuhi oleh semak-semak berduri dan rumput-rumput lebat.
“Wah! Orang tak berilmu silat yang berani menolongmu sungguh berhati mulia, sayangnya kita hanya bisa berharap ia diterima disisi-Nya sekarang. Tidak mungkin ada yang selamat dikeroyok oleh sekawanan berandalan bersenjata itu, kalau dia beruntung pun paling tidak sekarang ia sudah menjadi cacat.”Kata Chun Mi yang pesimis.

Air mata mulai mengalir di wajah si gadis kecil, ia sangat sedih bila orang yang telah berusaha menyelamatkan hidupnya berakhir tragis atau menjadi cacat.
Di suatu tempat yang jauh dari keramaian kota dan pergerakan manusia, terlihat sebuah rumah tua yang masih terawat. Rumah ini terletak di tengah pohon-pohon cemara lebat yang masih tersisa di desa Pillo.
Sebenarnya hanya tersisa sedikit sekali pohon-pohon lebat di desa Polli, apalagi hutan. Karena dulu pernah ada proyek pembangunan arena bertarung yang bernama A-Wan, sehingga banyak pohon-pohon besar yang menyejukkan desa Polli harus ditebang. Seluruh pendekar dunia persilatan akan bertemu untuk saling beradu ilmu di arena A-Wan, termasuk pertandingan mengadu kecepatan berlari ilmu meringankan tubuh yang sangat digemari oleh sang kepala desa Pillo, sayangnya pertandingan itu dibatalkan karena ada desa Pillo diserang oleh ribuan penjahat yang berilmu beladiri tinggi.

Dalam rumah tua tadi,terlihat seorang pemuda dengan model rambut yang sedikit aneh, rambut di bagian atas kepalanya tipis sekali. Ia sedang merawat temannya yang terluka memar-memar pada tubuhnya. Itu adalah Gin yang sedang mengobati Atse yang terluka parah. Puluhan jarum tipis ditancapkan ke “chakra” dasar di tubuh Atse, ini adalah teknik akupuntur tingkat tinggi (ilmu pengobatan tradisional yang efektif untuk menyembuhkan luka-luka). Udara di ruangan itu sungguh pengap dan berbau keringat.

“Aduh Gin kenapa kamu enggak buka jendela sih? Kasihan kan Atse yang terluka dirawat di ruangan pengap seperti itu” Tanya sang penulis cerpen di dalam hatinya sendiri.
Ternyata tindakan Gin berikutnya telah menjawab pertanyaan sang penulis cerpen. Gin melirik kearah jam dinding di kamar yang hampir menunjukkan pukul enam sore. Dengan santai Gin menunggu sampai waktu menunjukkan tepat pukul enam sore. Lalu dia menggunakan tongkat bambunya untuk mendorong jendela kayu yang menghadap kearah timur.
Sesaat tidak terjadi apa-apa, lalu mulai terdengar suara ratusan batang pohon bambu bergesekan dari kejauhan menimbulkan suara yang khas. Gin menyambut baik angin Timur di sore hari dengan senang. Ia melompat-lompat keluar rumahnya dan berkata keras,” Terima kasih kawanku!!! Aku sudah tahu kau pasti datang sore ini!! Hahahaha!”

Gin tidak hanya pandai di ilmu kungfunya tetapi juga pandai ilmu metafisika (ilmu tradisional tentang alam). Dia sudah memperhitungkan bahwa angin Timur akan berhembus pada sore hari ini, tepat jam enam. Angin sejuk berhembus kencang dan masuk kedalam kamar dimana Atse yang sedang terluka berbaring disana.
Tubuhnya yang dipasangi jarum-jarum tipis menjadi dingin. Dalam sekejap udara pengap dan bau keringat pun hilang oleh angin Timur itu. Luka-luka di sekujur tubuh Atse sudah membaik, nafasnya pun sudah mulai teratur.
Beberapa jam kemudian, Atse terbangun oleh suara dering lagu dari handphone miliknya yang keras melengking. Gin yang sedang berdiri diluar ruangan pun kaget dan segera masuk kedalam rumah, dia segera sadar apa yang terjadi.

“Stop! Jangan bangun dari tempat tidurmu dulu!”
Gin mencegah Atse yang hendak bangun dari tempat tidurnya, dan segera mengambil handphone milik Atse, dan menjawab teleponnya.

“Halo” (Gin)
“Halo, ini Atse?” (suara perempuan tak dikenal)
“Atse sedang tidur,saya temannya, ini siapa ya?” (Gin)
“Ini adalah orangtua dari gadis yang tadi sore ia selamatkan. Apakah Atse terluka parah? Ia masih hidup kan? Sekarang ia ada dimana?”
“Di rumahku. Bagaimana anda bisa tahu nomor teleponnya?” (Gin)
“Saya adalah pemilik pondok MIYABI yang terkenal, dia adalah pelanggan setia restoran kami. Dan tadi ia telah menyelamatkan anak gadis saya. Anak saya bercerita panjang lebar tentang ciri-ciri penyelamatnya yang saya yakin itu adalah Atse, pelanggan setia kami!!.”
“Dia sekarang baik-baik saja, besok mungkin dia sudah sembuh”(Gin)
“Baiklah, tolong sampaikan terima kasih kami untuknya, saya dan putri saya sangat khawatir dengan keadaannya.”
“Oke, nanti akan saya beritahu dia, selamat sore.” (Gin berkata singkat lalu menutup teleponnya).
Atse yang masih terbaring di ranjang bertanya ke Gin,”Siapa yang menelponku?” Dengan tertawa kecil Gin menjawab,” Hehehehe, kau ini benar-benar nekat. Tadi yang menelpon adalah Ibu dari gadis yang tadi kau selamatkan, pemilik Pondok MIYABI, restoran yang sering kau kunjungi.”
Dengan tertawa senang Atse berkata,” Hahahahaha!! Sulit dipercaya…. Ibunya pemilik restoran itu. Ahhhh, aku benar-benar beruntung, kalau aku sudah sembuh nanti aku akan makan mie ayam babi spesial disana!! Pasti mereka akan memberikanku harga yang lebih mur….”
“Uhuk-uhuk…uhuk-uhuk” Atse tiba-tiba terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
“Bodoh!!! Jangan berbicara dulu, lukamu belum sembuh!!!” Teriak Gin yang panik karena kondisi Atse yang mengkhawatirkan. “Hehehe, Gin.. sepertinya waktuku sudah dekat.. kalau tidak salah tadi aku merasa salah seorang dari berandalan itu menghancurkan tulang belakangku, kalau tidak salah Ibu Romy, guru biologiku di sekolah pernah menjelaskan jika tulang belakang hancur, sangatlah kecil kemungkinannya makhluk itu bisa hidup.”

Gin terdiam sesaat lalu berkata lagi dengan tergesa-gesa,” Haa? Orang sepertimu mana mungkin memperhatikan pelajaran saat guru menerangkan. Tenang saja kau pasti bermimipi, jangan berkata aneh-aneh.”
Senyuman di wajahnya yang pucat muncul dan Atse kembali berkata,” Gin… Aku ada permintaan terakhir untukmu…”
“Woi jangan gila kau!!!!!! Ngomong jangan sembarangan!!!” Teriak Gin yang mulai merasa bingung. “Gin, perasaanku tak akan pernah salah.”

Gin kembali terdiam, menahan sedihnya. Atse kembali berkata dengan kondisinya yang semakin lemah,”Gin… tolonglah, aku diberi ………tugas oleh Ibu Solphie…. dia …. dia… adalah guru pelajaran Bahasa Indonesia di sekolahku…. aku belum menyelesaikan tugas cerpenku….. maukah kau membantuku untuk menyelesaikannya?”
Mata Gin mulai basah oleh air matanya, dia berkata dengan suaranya yang bergetar karena perasaan sedihnya yang mendalam,” Kau….kau….tidak bercanda kan? Kau tidak boleh pergi!!! Heiii!!!!! Tenang saja!!! Ilmu pengobatan tradisionalku sungguh hebat! Kau tidak akan mati!! Jangan menyerah Atse!!!!! Bertahanlah!!!!!!!!!!!!!!!
Jangan menyerah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

“Aku mati juga tak menyesal karena telah bertemu orang sepertimu, oh ya……Gin…..tolong judul cerpennya …..Ja…ngan….me…..nye……..r..” Atse terdiam, lalu matanya tertutup dan senyum pucatnya memudar. Gin berteriak histeris, sesaat kemudian suasana di rumah tersebut menjadi hening kembali.

Pada malam itu jangkrik dan binatang lainnya tidak bersuara, sengaja mengantar kepergian sang pendekar pemberani yang tak berilmu silat dengan keheningan di malam hari yang dingin.

Awan-awan di langit terlihat berwarna putih cerah, tetapi saat itu hujan turun dengan derasnya….
sepertinya langit ikut menangisi kepergian sang pendekar sejati…


~Selesai~ (Berlanjut ke “Kembalinya Sang Pendekar Sejati)