Gagasan untuk membuat cerpen ini dulu lahir saat saya sedang jalan-jalan keliling kompleks saat malam hari. Suasana malam yang tenang, sekali-kali angin sejuk berhembus. Saya teringat tentang suasana dan kondisi dunia persilatan di buku-buku cerita silat karya Jin Yong (pembuat trilogi pendekar rajawali), Khoo Ping Hoo, dan dari komik-komik karya Tony Wong.
Lalu muncul ide untuk membuat gabungan antara tema persilatan dengan dunia modern ini, walaupun rencananya di cerita ini tidak akan ada banyak kendaraan bermotor karena tidak akan kontras dengan baik.
Saya harap jalan cerita ini tidak membuat salah paham, alias menyinggung teman-teman dan para pembaca, karena banyak sekali suasana di cerita ini yang saya copy dari suasana asli kehidupan sehari-hari hanya sekedar sebagai bahan mentah yang diolah kearah kisah fiksi.
Bagi yang ingin mengikuti cerita ini, silahkan baca dari cerpen yang awal ya yang cerpen pertama saya (judulnya Jangan Menyerah, berlanjut ke Kembalinya Pendekar Sejati bagian 1, 2). Dikarenakan cerita yang berawal dari kisah itu akan menambah jelas jalan cerita yang terjadi. Selamat membaca!
Terima kasih.
-Hadi Prasetyo/ 严世荣
--------------------------
Tokoh-tokoh yang sering muncul di cerita ini:
=-Polli College-=
*Atse, seorang murid di Polli College, salah satu tokoh utama di cerita ini. seharusnya sebagai tokoh utama ia memiliki kemampuan bertarung yang baik, sayangnya ia lupa cara mengeluarkan jurus untuk menyerang musuh. Hanya menguasain sedikit ilmu penyembuhan. Sisanya mengandalkan hoki dan berserah kepada takdir.
*Hok Ling, menganggap dirinya reinkarnasi dari Zhuge Liang, menggemari ilmu metafisika Cina, seperti meramal dengan daun teh, Feng Shui, dan lainnya.
*Yue Em, murid sekelas Atse. Teman setia buku-buku pelajaran sekolah, top scorer dalam nilai-nilai ulangan.
*Brolly, murid sekelas Atse, hebat dalam permainan sepakbola, dengan mengandalkan kekuatan, kecepatan, dan ketepatan.
*Kiske, murid di Polli College, sangat baik di nilai akademis sayangnya suka ngambek.
==========================
=-Sekolah Pendekar Harapan-=
*Gin, murid unggulan di Sekolah Pendekar Harapan. Ia adalah teman baik Atse. Terkenal dengan julukan Gin Diesel karena menyerupai artis terkenal Vin Diesel, setelah mencukur habis rambutnya sampai licin.
*Enmey, teman baik Gin. Sering muncul dengan botol arak berwarna hijau yang senantiasa menggantung di lehernya. Terkenal dengan jurus mabuknya.
*Ateng, karakter yang berpenampilan paling mirip seperti tokoh-tokoh manga, dengan mata yang cukup sipit, berkulit cukup gelap, tubuh jangkung, dan berdagu lancip. Berilmu cukup tinggi, tetapi cenderung meremehkan lawan.
*Afen, anggota partai sesat, Ular Hitam. Murid di Sekolah Pendekar Harapan.
*Acong, murid yang terlihat biasa-biasa saja namun memiliki rahasia yang berbahaya.
*Vicky, murid yang ..... pandai bermain pedang.... sy enggak berani tulis macam2, nanti dimarahin sama Gin yang asli. hehehe
==========================
Tokoh Lainnya:
*Chun-Mi, seorang master Tai Chi muda, memiliki suara keras dan berwibawa. Disamping itu ia adalah seorang yang gemar membantu sesama.
*Wu Long, anggota partai sesat, Ular Hitam. Berilmu kungfu tinggi. Menghalalkan segala cara untuk mengalahkan musuhnya,
--------------------------
==========================
CERPEN (cerita pendekar) Bab 4 Serial Atse DKK, Friends
==========================
Atse sedang duduk di dekat jendela yang berada di kantin. Di hadapannya Kiske duduk memasang wajah masam sambil melipat tangan dan menyenderkan kepala di tembok yang berada di belakangnya.
"Sampai kapan nih baru boleh pulang?" Ia bertanya , tidak jelas ditujukan kesiapa. Atse hanya menggeleng-geleng kepala.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih? Sepeda-sepeda hancur, dari depan sekolah tadi terlihat asap, belum lagi pesan aneh dengan gaya alay itu yang sepertinya hendak menakut-nakuti anggota sekolah. Seakan-akan sekolah kita sedang diserang, tapi tidak terlihat ada tanda-tanda perkelahian.
Murid-murid dilarang pulang, apa ada sesuatu yang berbahaya sedang terjadi di luar sekolah?" Atse berpikir keras.
Setelah beberapa saat, suasana di kantin sekolah menjadi sunyi. Banyak orang keluar meninggalkan kantin, beberapa murid kembali ke kelas mereka untuk mencari teman-teman mereka yang lainnya. Dan yang lainnya pergi entah kemana. "Mau keluar gak? mulai sepi disini", tanya Atse. "Males ah!!" Jawab Kiske dengan nada sewot, lalu kembali memasang wajah bete dan diam seribu bahasa.
"Hmm, oke deh, saya keluar dulu ya," lantas Atse mulai melangkah kearah pintu keluar kantin.Ia mulai memandang kesana-kemari. Tetapi sejauh mata memandang, tidak ada murid-murid yang terlihat, seakan-akan mereka menghilang ditelan bumi. Tiba-tiba ia teringat dengan seseorang..." Hok Ling! Dia, sejak kapan menghilang? Rasanya daritadi dia mengikutiku."
Lantas Atse berlari kembali kedalam kantin, ruangan itu sudah terlihat kosong melompong. Toko-toko penjual makanan sudah tutup semua. Tidak ada petugas pembersih, suasana di kantin menjadi aneh, beberapa lampu berkedip sesekali, seakan-akan lampu itu akan rusak. Kiske yang tadinya duduk di pojok ruangan sambil bersandar ditembok juga ikut menghilang.
Atse kehabisan kata-kata, tentunya ia merasa bingung dan hawa takut menyelimutinya. Sesaat bulu kuduknya berdiri, keringat dingin bercucuran di wajahnya. Ia mengambil tempat duduk di dekat pintu keluar kantin, mencoba menenangkan diri dan mulai merenungkan kejadian yang aneh ini dengan membuat posisi meditasi teratai...
--------------------------
Ternyata suasana di kelas IPA tahun ke dua, tepatnya kelas Atse, Brolly, dan kawan-kawan sungguh bertolak belakang dengan suasana di kantin dan di lingkungan sekolah yang sunyi. Di dalam kelas yang bercahaya terang itu, beberapa anak dengan santai sedang bermain "bolex", sebuah permainan dengan saling melempar tangkap bola kecil. Peraturannya simpel sekali, yang tidak dapat menangkap bola dengan benar hanya akan diejek atau diremehkan. Kunci di permainan ini juga mudah sebenarnya, harus siap setiap saat untuk melempar bola, karena orang yang memegang bola pasti akan dengan sengaja mencari teman yang sedang tidak siap, misalnya sedang mengambil buku, mengikat tali sepatu, dan sebagainya.
"Crownwell!!!!!" suara teriakan Brolly meramaikan suara ricuh di kelas, sejurus kemudian bola kertas koran bekas yang dilapisi isolasi melayang dengan cepat kearah kepala Crownwell yang sedang duduk bengong. Dhuakk!!!! "A*u kau Brolly!" Jerit Crownwell lantas mengambil bola dan melempar balik ke arah Brolly. Dengan mudah, Brolly menjulurkan tangan kirinya untuk menangkap bola itu dan berhasil ditangkap. "Ck Ck Ck ... kalau lempar bolex , cari sasaran yang tak siap, Nwell !! Gimana sih? Nih aku contohin!" Brolly mencari murid-murid yang sedang asik membaca buku pelajaran sebagai sasaran empuk.
Beberapa saat kemudian, terlihat dua orang murid sedang kejar-kejaran di dalam kelas yang ramai itu. Yue Em dengan wajah kesal, mengejar Brolly kesana kemari, hendak menghabisinya. "Hosh.. hosh... hosh.." Brolly mulai kehabisan nafas, tetapi masih sempat ia berkata," Yue Em tebel sih, makanya gak bisa ngejer aku yang tipis!"
Plok!!!!!!!!!!!
Bola "bolex" yang baru saja melesat dengan kencang mendarat di bagian yang paling menyakitkan milik Brolly. Sejurus kemudian ia terjatuh lemas sambil menahan rasa kesal dan sakit," Sialan lu Nwell!" ia berseru dengan suaranya yang lemah karena kesakitan.
Beberapa saat sebelumnya, saat Brolly sedang dikejar-kejar oleh Yue Em, Cornwell yang masih merasa tidak terima karena di"headshot" oleh temannya hendak melakukan vendetta. Dengan tangkas ia mengambil bola kertas bulat yang terjatuh dibawah kursi Yue Em. Lantas bola itu sudah berada di genggaman tangan kanannya, Cornwell mengambil nafas singkat, disaat Brolly sedang berhenti sesaat untuk mengambil nafas, ia melancarkan lemparan keras sambil mengeluarkan teriakan perang seperti di game warcraft, "Heaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!
Semuanya terjadi begitu cepat. Sang target empuk pun tidak menyadarinya dan kini ia terbaring di lantai. Teppei segera maju untuk mengecek keselamatan Brolly. Biaggi yang duduk di pojok ruangan menahan tawa karena melihat aksi dramatis yang barusaja terjadi. Yue Em merasa sedikit puas karena rasa kesalnya terbalas, tetapi masih berdiri bengong terbawa situasi.
Suasana kelas menjadi hening, seluruh perhatian murid tertuju kearah sang korban. Tiba-tiba suara dari seorang murid di kelas yang bernama Guan Do memecah keheningan. Suaranya terdengar santai tapi mengeluarkan kata-kata yang provokatif. "Starter yuk!"
Sejurus kemudian kelas menjadi ramai kembali oleh suara teriakan, dan beberapa suara tawa.
Di luar kelas, Jhe-Ez seorang murid perempuan perkasa sekelas Atse sedang berjalan keluar dari toilet bersama beberapa orang temannya. Lengan bajunya ditarik keatas, untuk memudahkannya memukul bila perlu mengeluarkan ilmu beladiri. "Aneh yah ini sekolah, murid ditahan gakboleh pulang, apa ada kejadian berbahaya yang terjadi diluar sana?"
"Mungkin aja, yah sebentar lagi kita tunggu deh, kalau masih enggak boleh pulang parah deh!" sahut temannya yang memakai jaket tipis berwarna biru.
Dari kejauhan, terdengar suara teriakan Brolly disertai teriakan Teppei,"Udah woi kasian! "Samar-samar juga terdengar suara menyemangati disertai tawa milik Guan Do.
"Aneh, suasana sekolah sunyi gini, di kelas kita bisa-bisanya ramai begitu!"
Jhe-Ez menjadi penasaran dengan suasana kelas yang sangat ramai.
"Biasanya gak seramai ini, ada apa sih?" begitu pikirnya. Sesaat kemudian ia membuka pintu kelas.
Cklik... Seakan-akan jantungnya berhenti berdetak karena menyaksikan pemandangan yang kacau. "Ya Tuhan!" Pintu kelas ditutup kembali dengan keras dan mereka tidak jadi masuk kedalam kelas.
==========================
Angin sore yang dingin berhembus kencang, menyusup kedalam gedung-gedung Polli College. Hawa dingin menyelimuti kantin sekolah. Seorang murid laki-laki dengan model rambut acak-acakan terbangun dari tidurnya. Sosok laki-laki aneh tiba-tiba muncul dihadapannya. Kira-kira ia berumur 30 tahun, memakai jubah biru yang panjangnya selutut. Wajahnya tanpa Ekspresi.
“Dasar bodoh, bisa-bisanya tertidur saat meditasi!”
Tubuh Atse bergetar karena kaget,” Yang Shen!” Ia berdiri, mengatur nafasnya, baru saja jantungnya serasa mau copot. “Bukankah sudah ku beritahu supaya jangan muncul tiba-tiba begini?”
“Aku tidak peduli, ada hal yang jauh lebih penting tentunya. Secepatnya kau harus meninggalkan gedung sekolah ini!”
“Bagaimana bisa? Gerbang utama dijaga ketat oleh para petugas keamanan sekolah”, Atse menjawab dengan ragu-ragu.
Yang Shen mengerutkan dahinya sambil menggelengkan kepala,” Percuma saja selama ini aku mengajarimu ilmu, kalau melawan satpam saja tidak bisa.”
“Bukan begitu, kalau berkelahi dengan petugas sekolah bisa-bisa aku kena bencana berat nanti.”
“Tidak usah takut dengan mitos-mitos aneh seperti itu,” kata Yang Shen dengan tersenyum.
“Aduh, maksudku…. aku akan kena hukuman dari kepala sekolah, aku bakal dikurung di sebuah ruangan yang sangat tidak menyenangkan. Tidak ada waktu untuk itu, nanti akan kujelaskan lebih lanjut. “
Sembari mengelus-elus jenggotnya Yang Shen kembali berpikir sejenak. Lalu ia berkata, “Baiklah, akan kubantu sebisanya, apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Teman-temanku menghilang secara misterius. Hok Ling dan Kiske.”
“Mungkin saja mereka sudah habis. Sekolah ini dipenuhi aura kuat yang berbahaya bagi orang – orang bukan pendekar kelas tinggi.”
Atse teringat dengan pesan yang tertulis dengan gaya bahasa alay di atas jam raksasa sekolah. Lantas ia berkata,” Mungkin saja itu ulah orang yang menulis pesan itu!” Ia menunjuk kearah jam raksasa yang terlihat jelas dari jendela kantin. Yang Shen berjalan kearah jendela lalu memandang pesan aneh yang tertulis di atas. ” Orang biasa tidak mungkin dapat menulis pesan diatas sana, butuh ilmu meringankan tubuh yang dua kali lebih hebat dari punyamu.”
Beberapa saat kemudian, mereka berdua berjalan menuju pintu keluar kantin. Ruangan itu masih tetap kosong seperti sebelumnya. Telinga Atse tidak menangkap adanya suara sedikitpun. Sambil memandang sekeliling ia meneruskan langkahnya. Tiba-tiba Yang Shen menepuk bahunya.
“Kau lihat itu? Jangan bergerak”, Yang Shen berbisik . Sekilas terlihat beberapa sosok bayangan hitam menyerupai manusia berkelebat diantara toko-toko yang biasa menjual makanan.
“Makhluk apa itu?” Tanya Atse yang merasa terkejut.
“Entah, tetap tenang. Mereka cukup banyak!”
Mulai terdengar suara aneh menyerupai suara kicauan burung gagak yang samar-samar bergema di ruangan, memecah keheningan. Atse melirik kebelakang, memastikan tidak ada sosok bayangan hitam itu yang berada di belakangnya. Siapa tahu ia akan diserang tiba-tiba dari belakang. Lalu ia berbisik pada Yang Shen,” Kau bisa melawan mereka kan?”
Yang Shen yang berdiri tegap di samping Atse hanya mengeluarkan senyuman kecil, lalu menarik sebuah kipas keperakan sepanjang 35 sentimeter dari balik jubah birunya. Dengan gaya bangsawan ia membuka kipas itu. “Srak” Suara kipas terbuka terdengar dengan nyaring.
Beberapa sosok bayangan hitam, kira-kira ada tujuh, mulai bergerak mendekat. Sosok mereka benar-benar tidak dapat dilihat dengan jelas. Sedikit terlihat transparan, dengan tinggi kira-kira satu setengah meter. Bentuknya yang menyerupai manusia terlihat janggal. Tampaknya mereka tidak membawa senjata sama sekali.
Udara di kantin menjadi sedingin es. Atse berjalan mundur beberapa langkah sambil menghimpun tenaga dalam di tangan kanannya, bersiap untuk melepaskan kekuatan penyembuh bila ia terluka. Yang Shen merasa sedikit lega melihat Atse menghimpun tenaga dalam. Sepertinya ia masih ingat cara menyerang dengan tenaga dalam. Tetapi entah kenapa, muncul keraguan di hatinya, dan ia bertanya untuk sekedar mengecek.
“Kau masih ingat cara menembakkan tenaga dalam seperti yang kuajari kan?”
Air muka Atse berubah pucat. “Aku lupa.”
“Atse, demi Tuhan! Pintar sekali kau! Jerit Yang Shen panik.
Dua sosok bayangan dengan cepat menerjang kearah Atse. Secara refleks Atse menunduk, membungkukkan badan, lantas melancarkan tendangan horizontal rendah secara kencang dengan kaki kanannya. “Srash” Beberapa detik kemudian ia merasa kaki kanannya kesemutan. Tetapi sosok kedua bayangan hitam yang menyerangnya sudah terlihat sudah buyar.
“Aku berhasil?” Tanya Atse yang sudah mulai merasa bangga.
“Belakangmu!!!”
Sesosok bayangan hitam melesat cepat dari arah belakang. Kali ini bentuknya berubah, menyerupai macan. Sosok macan itu melompat tinggi, dan membuka mulutnya dengan lebar, memamerkan gigi taringnya yang berwarna gelap seperti sosoknya. Atse hanya terbengong pasrah, tak mampu menghindar karena kaki kanannya tidak bisa digerakkan dengan leluasa. Secepat kilat Yang Shen mengibaskan kipas keperakannya.
Salah satu kursi panjang yang tersusun rapi di kantin terangkat keatas dan melesat cepat menghantam sosok macan itu dengan keras hingga pecah. Timbul getaran udara hebat, serta suara jeritan menyeramkan yang membuat bulu kuduk berdiri. Kursi panjang itupun ikut hancur berkeping-keping. Lima sosok bayangan hitam lainnya segera menyerang Yang Shen. Dua dua diantaranya mulai merubah bentuk mereka menjadi menyerupai kelelawar besar, dan ular sepanjang 4 meter. Kedua sosok itu melesat cepat, melancarkan serangan pembuka, sementara ketiga sosok hitam lainnya menyusul tepat dibelakangnya.
Yang Shen bersalto kekanan untung menghindar. Sosok kelelawar dengan mudah bermanuver dan mengejarnya. Sementara sosok ular berniat menyerang dari arah lainnya. Atse yang sudah berhasil menyembuhkan kaki kanannya yang kesemutan, segera berdiri, hendak memberi bantuan. Lantas ia memungut patahan besi dari patahan-patahan kursi yang tadi hancur. Ketiga bayangan yang masih berwujud manusia berlari kencang, membuat formasi lingkaran untuk ikut menggempur habis Yang Shen. Mereka tetap tidak merubah wujud mereka, berbeda dengan sosok kelelawar dan ular tadi.
Kelima sosok bayangan itu mendesak Yang Shen. Mereka menyerang dengan cepat dan teratur secara bergantian, membuatnya tidak bisa membalas serangan. Ia terus menghindari kontak fisik secara langsung dengan sosok-sosok itu setelah melihat kondisi kaki Atse yang lemah setelah menyentuh sosok bayangan tadi.
Atse menggenggam patahan besi dengan erat di tangan kanannya, menanti saat yang tepat untuk menyerang para musuh. Sosok kelelawar besar yang sedang asik berusaha menggigit Yang Shen merupakan sasaran yang paling baik untuk diserang. Lantas ia menerjang cepat kearah sosok itu, dan mengayunkan patahan batang besi itu secara vertikal kebawah disertai lompatan kedepan untuk menambah kekuatan serangan. Serasa menebas air, beberapa saat kemudian sosok itu buyar, dan menghilang seluruhnya. Kembali terjadi ledakan udara yang hebat. Atse tidak sempat menghindar dan terpental keras menabrak pagar-pagar besi ringan yang merupakan pembatas ruangan ekstrakulikuler tata boga dan ruangan kantin, hingga hancur. Ia mencoba bangkit kembali, tetapi rasa perih bukan main di lengan kanannya tiba-tiba muncul. Patahan besi ringan menusuk lengan kanannya, membuat sebuah luka yang dalam dan menyakitkan.
Baju seragam miliknya perlahan dipenuhi warna merah gelap. Atse mencoba menggerakkan tangan kirinya dan menghimpun tenaga penyembuhan. Rasa perih itu membuyarkan konsentrasinya. Ia kembali mencoba cara lain, menutup matanya, menyalurkan energi penyembuhan secara visual kearah luka-lukanya. Lagi-lagi ia gagal. Keringat dingin mengalir deras di wajahnya. Jantungnya berdetak kencang karena panik. Baru kali ini ia merasa sangat tidak berdaya, ilmu penyembuhan yang sangat diandalkannya, yang telah membuatnya berhasil melewati berbagai rintangan, sekarang tidak bisa digunakan dengan benar. Ada banyak luka di bagian-bagian penting tubuhnya sehingga energi penyembuhannya tak dapat mengalir dengan baik. Sementara itu, Yang Shen masih terus dikepung oleh keempat sosok bayangan. “Atse, kau tidak apa-apa?”
“Semoga saja begitu,” balas Atse sambil memasang ekspresi pucat.
Yang Shen merasa sedikit lega, ia mempercepat gerakannya, menghindar dengan membuat gerakan-gerakan tipuan. Sosok ular bayangan membuka mulutnya lebar-lebar dan menerjang kearahnya. Ia menunduk dan serangan ular itu mengenai tempat kasir hingga berantakan. Ketiga sosok bayangan hitam lainnya tidak bisa menyamai kecepatan gerakan Yang Shen yang sekarang, mereka hanya mencobamengejar semampu mereka, menunggu Yang Shen kehabisan nafas. Atse masih tetap duduk mencoba menyembuhkan lukanya, sambil melihat temannya yang kesulitan karena dikeroyok musuh-musuhnya. “Dia terus menghindar, apa dia tidak bisa bertarung dalam jarak yang dekat?” Pikir Atse.
“Benar, aku tidak bisa! Aku tipe petarung jarak jauh!” Jawab Yang Shen berseru dari kejauhan.
“Hah! Bisa membaca pikiranku?”
“Tentu saja, roh kita terhubung!”
Atse menjadi semakin heran, ia melihat sekeliling dan kembali bertanya di dalam pikirannya,” Oh jadi dulu saat aku kesulitan di ulangan kau yang membantu?”
Yang Shen masih terdesak, ia bersalto kesana kemari menghindari amukan sosok ular bayangan yang sudah menghancurkan 1/3 ruangan kantin. “Iyaa!! Kalau kau sudah bisa berdiri, tolong bantu aku tahan ular itu, aku butuh waktu untuk mengeluarkan jurus!”
“Tidak bisa! Ilmu penyembuhanku aneh, dari tadi tidak berhasil keluar,” Jawab Atse panik.
“Aduh, merepotkan sekali, kau siap untuk menahan sakit?” Ia bertanya dengan nada tergesa-gesa.
Atse menjadi terdiam, kemudian ia bertanya,” Apa maksudnya?”
“Sudah tidak ada waktu lagi, bersiap ya!”
“Hah?” Atse masih merasa bingung, tiba-tiba sosok Yang Shen muncul di sampingnya dengan kecepatan kilat. “Tahan sedikit ya”, lantas ia mencabut patahan besi yang sejak tadi menancap di lengan kanan Atse. Darah menyembur deras dari luka itu. “Arghhhhhhhhhhh!!!!!! Kampret!! Sakit sekali!!!!!!” Atse menjerit histeris dan berguling-gulingan di lantai menahan rasa sakit.
“Tahan sakitnya, konsentrasi untuk menyembuhkan luka-lukamu sekarang, seharusnya sudah bisa!” Jerit Yang Shen. Sementara itu keempat sosok bayangan tadi sudah memburunya kembali, tetapi jarak diantara mereka masih cukup jauh. “Heheh, ini yang kutunggu”,kata Yang Shen sambil tersenyum. Ia tidak menghindar, karena jika demikian tentu Atse yang masih berguling-gulingan di belakangnya akan menjadi sasaran empuk para bayangan hitam itu.
Ia memejamkan mata, merentangkan kedua tangannya. “Yin Yang bersatu, menembus batas duniawi. Aku memanggil kekuatan alam,…”
Terlalu lama, sosokm ular hitam sudah berada tepat didepannya, dan mematuknya dengan cepat. Yang Shen dengan tenang menggunakan tangan kanannya yang memegang kipas keperakan untuk menangkis. Kipas itu patah menjadi dua, terjatuh ke tanah, beserta tangan kanannya. Seakan-akan tidak merasa sakit, ia tetap tenang walau kehilangan salah satu tangannya. Ia memfokuskan pikiran, menunggu saat yang tepat untuk mengeluarkan jurusnya. Sosok ular hitam kembali menyerang, kali ini mengarah ke perutnya. Ketiga bayangan hitam lainnya sudah berada disekelilingnya, bersiap melancarkan pukulan dan tendangan. Sedetik kemudian, Yang Shen membuka mata dan berkata pelan sambil tersenyum,”Selamat tinggal.”
Serangan para sosok bayangan terhenti seketika. Waktu serasa menjadi melambat. Terjadi getaran udara yang misterius, seakan-akan gravitasi bumi menjadi lebih kuat. Kemudian lantai keramik yang berada di ruangan itu pecah berkeping-keping, melayang keudara. Dan menyatu secara rapi, bagaikan ribuan serangga yang berkumpul, menyerang habis sosok bayangan itu satu per satu.
Terdengar suara ledakan empat kali bertubi-tubi, kursi dan meja yang berada di dekat sana terpental ke arah tembok dan pilar-pilar hingga hancur lebur. Atse yang sudah berhasil menghentikan pendarahan di bahu kanannya, melompat berlindung ke pojok ruangan.
Sejurus kemudian Yang Shen terjatuh telentang ke tanah, suasana menjadi tenang kembali. Atse menghampirinya dengan berjalan perlahan. “Kau tak apa kan?”
“Apa-apa!” Jawab Yang Shen sambil tersenyum,”Seperti yang kau lihat, tangan kananku putus.”
Atse menatapnya, lantas bertanya,”Kenapa kau mau terluka demi aku? Menolongku sampai sekarang? Padahal aku tidak mengenalmu sama sekali". Sosok laki-laki berjubah biru itu tetap tersenyum, memandang dirinya lantas berkata,” Jangan pedulikan diriku, tangan ini akan sembuh sendiri nanti dalam beberapa hari.”
“Kau …. baiklah. Terima kasih banyak!” Atse duduk disampingnya, masih memperhatikannya, lalu berkata kembali,” Kau tidak merasakan sakit?”
“Sedikit sih”, Yang Shen melompat berdiri, “Yuk kita cari temanmu yang hilang. Tapi sepertinya kau harus membersihkan dirimu, aku akan cari baju ganti.”
“Kau gila !”
“Loh, kenapa?” Tanya Yang Shen sambil tersenyum.
“Tidak ada orang yang biasa-biasa saja setelah tangannya hilang!”
Yang Shen menghela nafas, sambil mengerutkan alisnya,” Itu kalau aku adalah orang. Aku bukan manusia, kau belum menyadarinya?”
“Sebenarnya sudah, tapi kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi!!!” Seru Atse.
“Kenapa aku menolongmu? Kenapa mau menderita bagimu?? Yah, itu akan kau ketahui sendiri bila saatnya tepat nanti, anggap saja aku roh pelindungmu.”
Atse termenung. “Roh pelindung?”
“Yeah”
Mereka berdua berjalan kearah toilet yang berada di belakang kantin. Sembari melangkah Atse masih tak habis pikir tentang Yang Shen yang berjalan santai di belakangnya sambil memasukkan tangan kanannya yang putus ke saku jubahnya supaya tak terlihat orang lain. Samar -samar terdengar suara puluhan burung gagak berkicau. Yang Shen memandang sekeliling, kondisi sekolah terlihat masih baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda terjadinya pertarungan silat, tidak ada yang hancur seperti di kantin tadi. Jam raksasa di atas gedung sekolah menunjukkan pukul empat sore.
Bau amis darah menyengat yang menempel di baju seragam tercium dengan jelas oleh para makhluk bayangan dari kejauhan. Mereka mengendap-endap dari kegelapan, menunggu saat yang tepat untuk menyerang kembali.
——————————————————————————
Hok Ling terbangun. Ia berada di dalam suatu ruangan yang sangat gelap. Telinganya menangkap suara nafas manusia di ruangan itu. Jantungnya berdetak cepat, tubuhnya basah oleh keringat karena udara di ruangan itu sangat panas. Ia mencoba bangun berdiri, tetapi usahanya sia-sia. Kaki dan tangannya mati rasa, tidak bisa digerakkan atau ada sesuatu yang mengikatnya dengan sangat erat. “Ada orang?!! Hok Ling bertanya dengan keras untuk memastikan. Tidak ada jawaban yang ia dengar sebagai balasan. Tapi pendengarannya masih menangkap adanya suara nafas orang lain di ruangan gelap itu.
BERSAMBUNG