SERIAL ATSE DKK, KEMBALINYA PENDEKAR SEJATI (BAGIAN DUA)
Cerpen
(cerita pendekar)
==========================================================================
Kembalinya Pendekar Sejati (bagian dua)
==========================================================================
(cerita pendekar)
==========================================================================
Kembalinya Pendekar Sejati (bagian dua)
==========================================================================
Suasana menjadi tegang, Gin merasa sedikit ragu-ragu dengan tantangan orang itu. “Huh! Beraninya melawan anak sekolahan, mana bisa begitu, sini lawan saya saja!!!!” seru Pak Makoto sambil mencabut pedang katana panjang dari sarungnya. Namun pemuda berbaju hitam itu tidak menghiraukan kata-katanya. Sejurus kemudian ia sudah berada tepat di depan Gin dan menusukkan pedangnya kearah dada Gin.
Gin merasa terkejut bukan main, ia merasa angin dingin bergerak cepat kearah dadanya, ia mencoba menghindar tetapi terlambat. Ia dapat merasakannya dengan jelas….rasa perih yang tidak tertahankan, darah segar keluar dari dada kanannya. “Gin!!!!!” murid-murid berteriak khawatir padanya. Bruk!!! Gin jatuh ke tanah dengan keras dan debu berterbangan.
Pak Makoto yang murka menyerang kearah pemuda berbaju hitam dengan cepat menggunakan pedang katana miliknya. Ia menyerang secara membabi buta dan terus mendesak mundur sang lawan. “Serangan bagus !” seru pemuda itu sambil terus mundur karena menahan serangan-serangan Pak Makoto. Pujian yang diberikannya bertujuan untuk menyindir Pak Makoto yang gerakannya masih kalah cepat dibandingkan dengan dirinya.
“Sungguh hebat! Bolehkah saya tahu siapa nama pendekar muda yang hebat ini?” tanya Pak Makoto. “Ahaha, tidak perlu memanggil pendekar, saya hanyalah orang berkedudukan rendah dari partai Ular Hitam yang bernama Wu Long.”
Gin bertanya-tanya di dalam hatinya apakah Afen sedang berada bersama mereka sekarang. Begitu mendengar nama partai Ular Hitam disebut ia menjadi kesal karena partai sesat itu lagi-lagi membuat ulah. “Kalian partai sesat memang pantas dihancurkan!” Gin berteriak sambil menerjang secepat kilat menuju pemuda yang bernama Wu Long itu. Seluruh murid dan pendekar baik-baik yang sejak tadi bersama mereka memandangi Gin yang penuh dengan semangat. “Hebat benar anak muda itu, tadi ia tampak terluka, tetapi sekarang ia sudah sembuh kah?” tanya seorang dari mereka.
Wu Long yang sejak awal sudah merasa kesal dengan Gin yang mengolok-oloknya segera meninggalkan Pak Makoto dan hendak menghabisi Gin kali ini. “Bocah tidak tahu adat, habislah kau!!” teriak Wu Long sambil mengeluarkan jurusnya,” Ilmu pedang penghisap nyawa tahap ketiga, tusukkan penghancur tengkorak!” Tiba-tiba muncul hawa pembunuh yang luar biasa menyeramkan dari pedang Wu Long. Gin tidak gentar sedikitpun, lantas ia mengeluarkan jurusnya juga,” Ilmu dewa pedang tahap kedua, burung walet berterbangan!”
Ribuan pedang seakan-akan berhamburan kearah Wu Long. Kedua jurus berbenturan dan mengeluarkan suara keras yang membuat orang tidak tahan. Ateng segera mengayunkan goloknya kearah Wu Long dari belakang. “Biar kuantar kau ke neraka!!!”
“Haa? Beginikah cara bertarung orang-orang yang mengaku aliran lurus? Masa dua orang mengeroyok satu orang?” tanya Wu Long dengan nada menyindir sambil menghindar kesamping. Golok Ateng hanya menembus angin. Sasarannya sudah menghindar dengan mulus dan bersiap menyerang balik. Ateng terkejut lalu mundur beberapa langkah. Gin tidak peduli dengan kata-kata lawannya, ia tetap memburu Wu Long bagaikan harimau kelaparan yang siap mengadu nyawa. Ateng merasa Gin sungguh berani, sehingga semangat tempurnya meningkat. Ia mencengkram gagang goloknya dengan erat lalu melompat tinggi keatas dengan ilmu meringankan tubuhnya. Sesaat kemudian ia mengeluarkan jurus pertamanya sambil berteriak, “Jurus golok bekantan sakti, bekantan melompat turun dari pohon pinus!!”
Merasa digempur dari depan dan atas, Wu Long menjadi gentar. Ia berniat untuk melompat mundur kebelakang, tetapi ia terkejut setengah mati ketika melihat Pak Makoto sudah berdiri siap di belakang dengan memasang kuda-kuda untuk membelah dirinya. Ia menggunakan cara terakhirnya dengan mengeluarkan jurus andalan,” Naga merah membelah daratan!!”
Seketika itu timbul ledakan tenaga dalam dashyat yang mementalkan seluruh orang yang berada di dekatnya. Ateng terheran-heran saat terkena daya pental tenaga dalam milik Wu Long, tubuhnya melayang jauh beberapa puluh meter entah kemana lalu ia pun jatuh tak sadarkan diri.
Kondisi Gin juga sama buruknya, berkali-kali ia memuntahkan darah segar. Pak Makoto masih berdiri tegap dengan luka-luka yang tidak kalah parahnya. Wu Long tergeletak di tanah, sepertinya jurus dashyatnya sendiri telah melukai tubuhnya. Lalu puluhan orang anggota partai Ular Putih berhamburan keluar dari kebun sayur dan bersiap membantai habis semua murid dan pendekar yang berada disana.
Enmey berusaha lari untuk mencari bantuan, tetapi kakinya terasa kesemutan karena daya ledak tenaga dalam Wu Long. Semua orang yang berada disana tampaknya lumpuh sesaat, tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya dengan baik bagaikan terkena ribuan totokan dari jarak jauh.
“Sial!!! Aku tidak boleh mati konyol disini,” pikir Enmey. Lantas ia mencoba untuk menggerakkan tangan kanannya secara perlahan. Ia meraih botol hijau berisi arak yang selalu menggantung di lehernya. Dengan cepat ia menghabiskan seluruh arak yang berada di botol itu lalu bersendawa keras kearah salah seorang anggota partai ular hitam yang berada di dekatnya,
Seluruh perhatian mengarah ke Enmey yang tubuhnya berdiri sempoyongan dan wajahnya sedikit merah. “Bocah tidak tahu adat! Tak bisakah kau menjaga sikap saat menanti ajalmu?!!!” Seru salah seorang yang berbaju hitam dan berpostur tubuh paling tinggi diantara kawanannya. Lima orang sudah siap dalam formasi lingkaran untuk menghabisi nyawa Enmey dalam sekejap. Sesaat kemudian lima orang itu sudah menyerang dengan cepat, mereka menyerang dari segala arah dan menusukkan pedangnya ke arah dada Enmey.
Kejadian ini sungguh diluar dugaan, Enmey mengeluarkan suara aneh dari nafasnya, bagaikan jurus pamungkas milik Ouw Yang Feng di “Pendekar Rajawali”. Suara itu sedikit mirip seperti suara orang yang sedang kumur-kumur. Kelima musuhnya menarik kembali serangan mereka karena bingung dengan kelakuan Enmey. Sejurus kemudian kelima orang tersebut telah jatuh terjelembab di tanah dengan kondisi yang menggenaskan.
“Tidak mungkin! Bocah itu!!! Ilmu sesat!!!!” teriak Wu Long yang merasa panik karena melihat kemampuan misterius milik Enmey. Peristiwa yang baru saja terjadi dalam sekejap itu sulit sekali dilukiskan dalam pikiran orang biasa. Tetapi Pak Makoto yang berilmu tinggi dapat melihatnya dengan jelas. Enmey tampak memuntahkan gumpalan tenaga dalam yang dashyat dari mulutnya ke tanah dan terjadi getaran udara hebat yang dapat menghabisi lawannya dalam sekejap. Secara fisik lawannya tidak terlihat terluka sama sekali, tetapi seluruh organ-organ dalam tubuh mereka telah hancur. Enmey masih berdiri sempoyongan, bisa disimpulkan kalau jurus yang baru saja ia gunakan telah menguras habis tenaga di dalam dirinya. Beberapa anggota Ular Hitam menjadi geram, mereka hendak menebas leher Enmey saat itu juga. Tetapi Wu Long melarang mereka, ia takut akan muncul korban lebih banyak lagi.
Lalu ia mulai memberi instruksi ke kawan-kawannya untuk mundur. Sesaat terlihat wajah Afen diantara para anggota partai Ular Hitam yang baru saja bergerak mundur ke dalam hutan di depan kebun sayur itu.
———————— ————————- ————————————— ————–
Udara di malam hari yang dingin membuat Atse tidak betah untuk berdiam diri di rumahnya yang berada di tengah-tengah desa. Terdengar suara nyaring gitar anak tetangga sebelah rumah yang sedang memainkan lagu “Mulai” dari band Gigi Tonggos Pepe yang sedang populer saat itu. Sebenarnya Atse sangat menyukai lagu itu, anehnya ia segera pergi keluar dari rumahnya dan berlari ke arah pintu keluar perumahan Polli Tengah. Bisa jadi ia merasa iri karena permainan gitarnya yang buruk, tidak mungkin bisa memainkan lagu populer seperti itu. Lagipula di sekolah pun ia masih kalah jauh dengan teman-temannya, khususnya dengan Teppei yang semakin hari semakin handal.
“Hmmm, seandainya aku bisa main gitar dengan baik seperti anak tetangga tadi….” Atse berkata kecil sambil berjalan dengan santai kearah pusat kota. Beberapa menit kemudian ia sudah sampai di pusat kota yang ramai, terlihat tidak habis-habisnya para pengunjung yang berlalu-lalang di sana. Gedung-gedung pencakar langit terlihat berkilauan di malam hari karena lampu-lampunya yang bercahaya indah. Di pinggiran jalan utama, terlihat banyak tenda-tenda restoran kecil yang tidak kalah hebohnya. Para pelayan restoran sedang sibuk melayani pelanggannya dengan ramah. Suara gesekan spartula dan kuali yang nyaring terdengar dari segala arah, sungguh meramaikan suasana di malam hari.
Dari kejauhan tercium wangi daging babi panggang yang membuat Atse tertarik. Sejurus kemudian ia sudah duduk di pojok tenda, menyantap daging babi panggang yang harum karena dilumuri mentega, ditambah lagi daging itu disajikan dalam kondisi hangat dan masih fresh dari kuali. Sungguh makanan yang pantas disantap di malam hari yang dingin. Tiba-tiba Atse teringat sesuatu !! “Tidak!! Tidak mungkin, aku lupa membawa dompet !!” Atse berteriak keras dalam hati. Ia mulai melirik ke segala arah, berusaha mencari jalan keluar.
Beberapa ide terlintas di pikirannya, salah satunya adalah berikut,
*Atse mendekati sang pemilik restoran lalu bertanya sambil memegang perutnya erat-erat,”Pak, toiletnya dimana ya?” Ia sudah tahu di restoran tenda-tenda pinggir jalan seperti itu tidak mungkin ada toilet, maka bisa jadi alasan untuk pergi keluar tenda dan lari.
Tetapi ia segera mengurungkan niatnya setelah melihat raut wajah sang pemilik restoran yang terlihat sedang kesusahan. Air mukanya mencerminkan hatinya yang sedang sedih. Pemilik restoran tenda itu adalah seorang lelaki tua yang rambutnya sudah beruban. “Aku bisa kena musibah bila berbuat jahat pada kakek ini”, pikir Atse.
Tiba-tiba pikirannya teralihkan oleh suara jeritan kakek itu. “Kurang ajar! Kau makan tetapi tidak mau bayar dan malah lari!!!” Atse terkejut bukan main, ia menyangka kakek itu mengetahui akal liciknya, tetapi ia keliru. Ternyata di restoran itu ada yang sudah melakukan ide yang serupa!! Seorang laki-laki gemuk yang menguasai ilmu meringankan tubuh berlari menjauh dari restoran itu.
Atse segera memanfaatkan kesempatan itu dan berkata,” Huh dasar orang tidak tahu malu, baru mengerti sedikit ilmu silat saja sudah melakukan untuk hal-hal buruk!! Tenang saja paman, biar kukejar orang itu !!” Ia menepuk bahu kakek itu lalu keluar dari tenda restoran dan memperlihatkan ilmu meringankan tubuhnya yang cukup baik dengan melompati gedung-gedung pertokoan. Kakek itu tampak sangat senang dan berdiri menatap kepergian Atse.
Orang gemuk yang tadi mengira tidak ada yang mengejarnya, tetapi ia keliru. Dari arah belakang sebatang sumpit melesat kearahnya dengan kecepatan tinggi. Telinganya mendengar suara aneh yang tidak diketahuinya. Lantas ia menoleh kebelakang dan sumpit itu mengenai dahinya dengan keras. Pletak!!! Lalu ia jatuh ketanah dan merintih kesakitan. “Dasar sialan! Siapa kau?!” tanya orang itu dengan menatap tajam Atse. Orang itu terjaruh diantara pohon-pohon jagung, tampak penerangan sangat buruk disana, kebun jagung itu hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak yang berada di atas tiang yang tertancap di tengah kebun.
“Tidakkah kau merasa bersalah setelah mencuri makan seperti itu?” Tanya Atse dengan nada menyindir. Orang itu terdiam sejenak lalu menunduk.
** “Waduh-waduh! Dasar !!! Sebaiknya kau bercermin saja Atse, siapa yang makan tidak bayar selain orang itu coba ??!!” Seru sang penulis cerita ini di dalam hatinya.
Dengan santai Atse berjalan mendekat, ia merasa sudah menang dan berkata kembali,” Sebaiknya kau berikan saja sedikit uang kepada kakek sang pemilik restoran, maka kau juga akan kulepaskan. Kasihan kakek yang sudah tua itu, tampaknya ia sedang terkena masalah berat.”
Lawan pun memanfaatkan kesempatan yang terbuka lebar ini, dengan cepat ia menerjang kearah Atse dan mencabut belatinya. Atse terkejut setengah hidup dan secara refleks ia berusaha menotok bagian dada lawannya, tetapi terlambat. Mata pisau belati yang bercahaya biru di malam hari tinggal beberapa senti lagi sudah membutakan mata kanannya. Semuanya terjadi begitu cepat, Atse merebahkan diri kebelakang dan terlihat pasrah. Tanpa sadar tangannya beraksi secara refleks menotok ketiak orang yang bertubuh gemuk itu. Rasa kesemutan di tangan mulai menjalar ke seluruh tubuh lawan, beberapa saat kemudian ia jatuh kedepan menimpa tubuh Atse dengan keras. “Argh!!! Gila kau…… !!!” Atse menjerit kesakitan, lalu suaranya menghilang.
Atse merasa sekujur tubuhnya menjadi lemas karena jatuh tertimpa tubuh lawan yang gemuk.
Keduanya terjatuh tak sadarkan diri…..
————————– ———– ————————–
Esok paginya saat waktu menunjukkan pukul Lima, Atse terbangun, lawannya sudah tidak dalam posisi sedang menimpa tubuhnya lagi, lelaki bertubuh gemuk itu sedang tertidur pulas disamping dirinya
.
Ia sungguh bersyukur karena tidak jadi kehilangan mata kanannya, ia masih terbayang-bayang oleh pisau belati lawan yang sedikit lagi membuat dirinya cacat. Namun ia teringat bahwa hari ini adalah hari sekolah, lantas ia berlari keluar kebun jagung itu dan menuju ke rumahnya. Setelah tiba dirumah tercintanya, ia segera melepaskan pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Entah kenapa ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya ingin sekali menoleh kearah cermin. Akhirnya Atse mengikuti nalurinya, dan menoleh kearah cermin dengan santai.
Suara jeritan histeris memecahkan keheningan di perumahan Polli Tengah. Burung-burung gereja yang tadinya hinggap di atap rumah Atse, sudah terbang semua. Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi lantas berganti pakaian seragam. Ia mengambil sebuah kacamata hitam besar seperti yang biasa dipakai oleh para tukang pijat yang buta. Saat kacamata itu dipasangkan di wajahnya, sambil bercermin ia berkata singkat,”Semoga tidak ketahuan”.
——————- —————————- ————————- ——————————-
Di tengah perumahan Timun Sendawa Gelap, ada sebuah lapangan rumput besar yang dulu seringkali dipakai untuk bermain sepakbola kungfu sehingga selalu ramai oleh anak-anak, tetapi kini gawangnya sudah rusak, sejumlah rumput-rumput liar sudah tumbuh disana. Suasana di lapangan rumput sungguh sunyi senyap. Tetapi pagi itu sungguh merupakan suatu saat yang menyenangkan. Saat itu tidak disia-siakan oleh pendekar Tai Chi yang sudah dinanti-nantikan kemunculannya oleh para pembaca. Ya! Dia adalah Chun Mi. Terlihat dengan jelas ia sedang berlatih Tai Chi di tengah lapangan, ia tidak sendirian. Puluhan orang lanjut usia berdiri mengelilinginya dengan membentuk formasi lingkaran. Mereka berlatih bersama, dengan sang suhu Tai Chi yang berada di tengah-tengah mereka.
Gerakan-demi gerakan dilakukan dengan lemah lembut, tetapi seringkali orang biasa tidak menyadari bahwa dibalik ilmu yang terlihat seperti senam kakek-nenek itu terdapat suatu tenaga dalam yang sungguh hebat. Ada pepatah Cina yang mengatakan,” Jika melatih ilmu Tai Chi dari kecil, umur bukanlah masalah.” Karena para ahli Tai Chi biasanya terlihat awet muda. Eh, tetapi bukan berarti Chun Mi adalah orang tua yang terlihat seperti anak-anak ya, dia benar-benar masih remaja lho, umurnya baru tujuh belas tahun kalau tidak salah.
Angin pagi hari berhembus dengan kencang, dahan pepohonan tinggi di lapangan itu tergetar bagaikan sedang menari-nari. Jubah kuning yang dipakai oleh Chun Mi berkibar-kibar, tetapi ia tetap terlihat tenang sambil membentuk gerakan-gerakan Tai Chi yang diikuti serentak oleh murid-muridnya yang 80% merupakan nenek-nenek.
Atse yang sedang bersepeda hendak pergi ke sekolah, lewat di pinggir lapangan itu. Ia menghentikan laju sepedanya dan terkagum-kagum dengan pemandangan itu. Lantas setelah menyenderkan sepedanya di pinggir pohon cemara besar, ia berjalan mendekat. “Maaf nek, itu ilmu Tai Chi kan?” Atse bertanya pelan ke seorang nenek yang berdiri di dekatnya. “Iya, kenapa de? Mau ikut latihan?” nenek itu menjawab dengan ramah. Atse menjadi sedikit malu dan menjawab,” Oh engga, mungkin lain kali saja nek, saya harus pergi kesekolah.”
Mata nenek itu memandang kearah mata Atse dengan tajam. Seakan-akan ia dapat melihat tembus kacamata hitam yang dipakainya. Atse mencoba untuk menghindari tatapan nenek itu dan hendak mohon diri. Tiba-tiba nenek itu menepuk bahunya pelan, dan bertanya,” Alis mata kananmu kenapa dik?”
Tangan kiri Atse bergerak secara refleks untuk menutupi mata kanannya. Sambil menggaruk-garuk kepala ia menjawab,” Kemarin saya potong rambut di tempat pangkas rambut X, tukang potongnya enggak bener! Saat potong rambut saya dengan mesin otomatis, dia sambil nonton sinetron! Alis saya jadi tercukur begini deh.”
Nenek itu hanya mengangguk pura-pura percaya dengan perkataan Atse. “Syukurlah kalau begitu!”
Atse berniat berjalan menjauh karena rasa malu yang meledak-ledak di hatinya.
“Sial! Hebat betul mata nenek itu, alis mata kananku yang botak terlihat jelas olehnya, kata Atse dalam hatinya.
Lantas ia berkata pelan,”Saya pergi sekolah dulu ya, terima kasih”. Nenek itu hanya memandangi kepergian dirinya dengan memasang ekspresi menahan tawa di wajahnya. “Hahah, dasar anak muda zaman sekarang, apa model alis botak sebelah sedang trend saat ini?”
Atse mengayuh sepedanya sekencang mungkin, angin kencang dari arah depan menyusup kedalam bajunya. Beberapa saat kemudian, jalanan itu menurun kebawah kearah sebuah hutan kecil. Dengan santai ia memelankan laju sepedanya dan bergaya bersepeda tanpa memegang kendali. Diambilnya jam tangan “Swiss Army” palsu bikinan Cina dari saku celana dan ia pakaikan di tangan kanan.
Dedaunan pohon dari pepohonan lebat yang tumbuh di pinggiran jalan berjatuhan memenuhi jalanan. Suara roda sepeda memecah keheningan di hutan itu. Biasanya saat musim kemarau, akan ada banyak ular-ular tanah yang meramaikan jalanan.
Sesekali Atse merasa sepedanya terguncang pelan karena menlindas sesuatu yang cukup besar. Mungkin kalau ia turun dari sepeda dan mengecek apa yang baru saja dilindasnya tadi, akan terjadi sesuatu yang mengasikkan. Setelah melewati hutan kecil, dari jarak yang cukup jauh, terlihat samar-samar gedung sekolah Polli College yang besar, dengan jam raksasa di gedung utamanya. Walaupun jam itu lebih sering dianggap sebagai hiasan, karena waktu yang ditunjukkannya tidak pernah tepat. Sekolah Pillo College cukup besar, gedung sekolahan dicat dengan warna kuning muda dan putih, sebuah komposisi warna yang sebenarnya tidak terlalu menarik, tetapi ya sudahlah.
Puluhan murid memasuki gerbang sekolah dengan bermacam-macam transportasi. Ada beberapa anak yang diantar dengan mobil mewah atau sepeda motor dan sisanya mengendarai sepeda. Peraturan di sekolahnya ketat juga, tidak boleh mengendarai mobil dan tidak boleh membawa telepon genggam, walaupun boleh kalau tidak ketahuan. Oh ya, ada lagi! Anak laki-laki tidak boleh berambut panjang. Peraturan itulah yang paling dibenci oleh Atse. “Kaum laki-laki di Asia sudah sepantasnya berambut panjang, setidaknya seleher. Bagaimana mungkin sekolah ini tidak mengerti tradisi yang sudah dijaga sejak dulu oleh leluhurku?” begitu pikirnya.
Sesaat kemudian, setelah memarkir sepedanya Atse berjalan memasuki pintu gedung utama. Saat melangkah masuk, terdengar suara lagu “Orang-orang butuh Tuhan” yang cukup keras dari dalam gedung sekolah. Memang Polli College adalah sekolah yang cukup bagus nilai keagamaannya bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya. Beberapa jurus kemudian Atse sudah masuk ke kelasnya dan meletakkan tas miliknya di meja. Suasana kelasnya di pagi hari memang selalu sunyi senyap. Yue Em sedang membaca buku pelajaran. “Emangnya nanti kita ada ulangan?” tanya Atse. Yue Em menghela nafas lalu berkata,” Enggak ada kok, cuma iseng-iseng baca aja”.
Brolly yang sedang duduk di meja memotong perkataan Yue Em,” Dia suka baca buku tebal, lama-kelamaan ia akan mengikuti kondisi bukunya.”
“Tipis diem deh!” bentak Yue Em.
“Tipis?” Atse terkejut. “Tipis…. Tipis….. Tipis…. maksudnya apa???” tanya Atse.
Brolly menjawab dengan santai tanpa pikir panjang sambil memandang kearah wajah Atse,” Maksud dia badanku tipis, alias langsing …….. seperti …. alismu……”
Brolly tersentak kaget dengan perkataannya sendiri yang keluar secara spontan. Apalagi Atse yang tersentak dua kali lebih keras dan rasa malu kembali merasuki dirinya. Keringat bercucuran di wajahnya yang menjadi merah.
“Eh, eh.. kok… Alismu kenapa Tse?” tanya Brolly yang heran setelah memperhatikan alis Atse. Seluruh kelas menjadi diam… kemudian suara puluhan tawa meledak-ledak di ruangan itu. “Anu… kemarin aku…. potong rambut di X, lalu tukang cukurnya salah cukur karena ia sambil nonton …”, Atse berusaha memberi penjelasan karangannya, tetapi suara ledakan tawa di kelas menelannya.
Dari awal pelajaran hingga akhir pada hari itu, puluhan ejekan dilontarkan padanya. “Hari yang sangat menyebalkan!” seru Atse sambil berjalan lesu kearah sepedanya yang diparkir di halaman belakang sekolah. Sesuatu yang janggal terjadi. Puluhan murid-murid mengerumuni tempat parkir sepeda, sepertinya terjadi sesuatu. “Mungkin hanya kecolongan sepeda,” begitu pikirnya. Tetapi setelah ia melihat seluruh sepeda yang diparkir disana sudah berubah menjadi puing-puing, alias dihancurkan…. sorot matanya berubah total.
Ada beberapa anak yang terlihat putus asa, ada juga yang merasa kesal sambil menendang sepedanya yang hancur. “Sial!!! Sepeda baru hadiah ulang tahunku!” jerit seorang bocah kecil yang berada di samping Atse. “Siapa yang mencari masalah dan berbuat demikian?”
“Bagaimana ini? Bisa-bisa aku disunat orangtuaku!”
Berbagai ungkapan dilontarkan oleh para murid yang sepedanya dihancurkan. Tiba-tiba seorang murid pria berlari keluar dari kerumunan. Lantas ia berteriak kesal,” Dimana para satpam sekolah???!! Dasar tidak berguna!!!”. Sesaat kemudian terlihat asap hitam mengepul-ngepul di udara dari arah gerpang utama sekolah Pillo College. Atse melupakan sepedanya dan segera berlari kearah gerbang utama sekolah dengan ilmu meringankan tubuhnya. Orang-orang berlarian ke arah yang berlawanan, suara jeritan terdengar dari arah depan.
“Apalagi yang terjadi?” pikir Atse yang merasa bingung dengan suasana di sore hari itu. “Atse! Atse!” suara Hok Ling terdengar dari belakang. Ia berhenti lantas menoleh kebelakang. Hok Ling menunjuk ke atas, kearah menara utama sekolah dimana jam raksasa berada. Tepat dibawah jam raksasa, terlihat samar-samar tulisan berwarna hitam, Atse mencoba untuk membacanya. Tetapi silaunya cahaya matahari membuat pandangannya terganggu.
“Terlalu terang, aku tak bisa membacanya Hok!” . Hok Ling mengangguk,”Tapi jangan pergi ke gerbang utama, terlalu ramai dan sepertinya terdengar suara mesin meledak, sebaiknya kita mencari tempat yang aman dulu, setelah situasi lebih baik kita pulang.”
Sambil berjalan ke kantin sekolah Atse bertanya,” Menurutmu siapa yang melakukan ini? Teroris kah?”.
“Hmmm.. sulit untuk diterka, entahlah,” Hok Ling hanya menjawab singkat.
Suasana di kantin yang sudah tutup saat jam sekolah selesai sungguh sepi, hanya tersisa beberapa murid yang sedang duduk santai sambil SMS-an, atau bercakap-cakap dengan temannya. Atse mengambil tempat duduk dekat jendela lalu melirik sekilas kearah jam tangannya. Pukul setengah empat sore. Tanpa sengaja Atse melirik keluar jendela dan……
“Hok! Tulisan yang tadi terbaca dari sini coba kau lihat sini.” Hok Ling mendekat kearah jendela lalu mulai mencoba membaca tulisan-tulisan itu.
“KeLuAr 30 LaNgkah daRi pErbAtasAn SeKoLaH = MaTi “
Atse dan Hok Ling tercengang. “Gaya bahasa alay, tetapi seakan-akan itu ada kesan yang terikat dengan ilmu silat, di bagian 20 langkah itu,” kata Hok Ling. Atse menyahut,”Melihat sepeda-sepeda yang dihancurkan secara brutal tadi, aku rasa ini bukan perbuatan iseng, ini adalah ancaman.”
“Jadi ini seperti sekolah Hogwarts di dunia Harry Potter yang diserang oleh kawanan pelahap maut milik Voldemort?” Tanya Hok Ling sambil tertawa. “Tapi situasinya beda, seharusnya pihak sekolah sudah menghubungi polisi atau pihak keamanan lainnya, sedangkan Hogwarts tidak minta bantuan siapa-siapa.”
Tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari puluhan amplifier yang dipasang hampir di seluruh bagian sekolah. “Seluruh anggota sekolah dan orangtua murid harap masuk kedalam gedung sekolah! Ini kondisi darurat, diulangi sekali lagi, bagi para orangtua dan anggota sekolah diharap segera masuk ke dalam gedung sekolah!”
“Kantin termasuk gedung sekolah kan?” Atse bertanya dengan suara keras. “Iye!” sahut seorang murid pria yang mengambil tempat duduk di dekatnya. Ekspresi wajah orang itu terlihat seperti sedang sedih atau ngambek. Memang dia adalah teman sekelas Atse yang …….maaf…. suka ngambek. “Aah!! Sebel aku!! Sepeda hancor, sekarang gak bisa keluar dari sekolah!” Ia berteriak dengan logat Jawa yang kental. Ia bernama Kiske, tubuhnya kurus dan tingginya kira-kira 170cm, dengan alis mata tebal nan garang, dan sorot matanya tajam.
“Yah sudahlah, sepedaku juga hancur, nanti kita cari pelakunya dan kita selesaikan dia bersama.”
—————————————–
Kembalinya Sang Pendekar Sejati
selesai. nantikan bagian selanjutnya
Gin merasa terkejut bukan main, ia merasa angin dingin bergerak cepat kearah dadanya, ia mencoba menghindar tetapi terlambat. Ia dapat merasakannya dengan jelas….rasa perih yang tidak tertahankan, darah segar keluar dari dada kanannya. “Gin!!!!!” murid-murid berteriak khawatir padanya. Bruk!!! Gin jatuh ke tanah dengan keras dan debu berterbangan.
Pak Makoto yang murka menyerang kearah pemuda berbaju hitam dengan cepat menggunakan pedang katana miliknya. Ia menyerang secara membabi buta dan terus mendesak mundur sang lawan. “Serangan bagus !” seru pemuda itu sambil terus mundur karena menahan serangan-serangan Pak Makoto. Pujian yang diberikannya bertujuan untuk menyindir Pak Makoto yang gerakannya masih kalah cepat dibandingkan dengan dirinya.
“Sungguh hebat! Bolehkah saya tahu siapa nama pendekar muda yang hebat ini?” tanya Pak Makoto. “Ahaha, tidak perlu memanggil pendekar, saya hanyalah orang berkedudukan rendah dari partai Ular Hitam yang bernama Wu Long.”
Gin bertanya-tanya di dalam hatinya apakah Afen sedang berada bersama mereka sekarang. Begitu mendengar nama partai Ular Hitam disebut ia menjadi kesal karena partai sesat itu lagi-lagi membuat ulah. “Kalian partai sesat memang pantas dihancurkan!” Gin berteriak sambil menerjang secepat kilat menuju pemuda yang bernama Wu Long itu. Seluruh murid dan pendekar baik-baik yang sejak tadi bersama mereka memandangi Gin yang penuh dengan semangat. “Hebat benar anak muda itu, tadi ia tampak terluka, tetapi sekarang ia sudah sembuh kah?” tanya seorang dari mereka.
Wu Long yang sejak awal sudah merasa kesal dengan Gin yang mengolok-oloknya segera meninggalkan Pak Makoto dan hendak menghabisi Gin kali ini. “Bocah tidak tahu adat, habislah kau!!” teriak Wu Long sambil mengeluarkan jurusnya,” Ilmu pedang penghisap nyawa tahap ketiga, tusukkan penghancur tengkorak!” Tiba-tiba muncul hawa pembunuh yang luar biasa menyeramkan dari pedang Wu Long. Gin tidak gentar sedikitpun, lantas ia mengeluarkan jurusnya juga,” Ilmu dewa pedang tahap kedua, burung walet berterbangan!”
Ribuan pedang seakan-akan berhamburan kearah Wu Long. Kedua jurus berbenturan dan mengeluarkan suara keras yang membuat orang tidak tahan. Ateng segera mengayunkan goloknya kearah Wu Long dari belakang. “Biar kuantar kau ke neraka!!!”
“Haa? Beginikah cara bertarung orang-orang yang mengaku aliran lurus? Masa dua orang mengeroyok satu orang?” tanya Wu Long dengan nada menyindir sambil menghindar kesamping. Golok Ateng hanya menembus angin. Sasarannya sudah menghindar dengan mulus dan bersiap menyerang balik. Ateng terkejut lalu mundur beberapa langkah. Gin tidak peduli dengan kata-kata lawannya, ia tetap memburu Wu Long bagaikan harimau kelaparan yang siap mengadu nyawa. Ateng merasa Gin sungguh berani, sehingga semangat tempurnya meningkat. Ia mencengkram gagang goloknya dengan erat lalu melompat tinggi keatas dengan ilmu meringankan tubuhnya. Sesaat kemudian ia mengeluarkan jurus pertamanya sambil berteriak, “Jurus golok bekantan sakti, bekantan melompat turun dari pohon pinus!!”
Merasa digempur dari depan dan atas, Wu Long menjadi gentar. Ia berniat untuk melompat mundur kebelakang, tetapi ia terkejut setengah mati ketika melihat Pak Makoto sudah berdiri siap di belakang dengan memasang kuda-kuda untuk membelah dirinya. Ia menggunakan cara terakhirnya dengan mengeluarkan jurus andalan,” Naga merah membelah daratan!!”
Seketika itu timbul ledakan tenaga dalam dashyat yang mementalkan seluruh orang yang berada di dekatnya. Ateng terheran-heran saat terkena daya pental tenaga dalam milik Wu Long, tubuhnya melayang jauh beberapa puluh meter entah kemana lalu ia pun jatuh tak sadarkan diri.
Kondisi Gin juga sama buruknya, berkali-kali ia memuntahkan darah segar. Pak Makoto masih berdiri tegap dengan luka-luka yang tidak kalah parahnya. Wu Long tergeletak di tanah, sepertinya jurus dashyatnya sendiri telah melukai tubuhnya. Lalu puluhan orang anggota partai Ular Putih berhamburan keluar dari kebun sayur dan bersiap membantai habis semua murid dan pendekar yang berada disana.
Enmey berusaha lari untuk mencari bantuan, tetapi kakinya terasa kesemutan karena daya ledak tenaga dalam Wu Long. Semua orang yang berada disana tampaknya lumpuh sesaat, tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya dengan baik bagaikan terkena ribuan totokan dari jarak jauh.
“Sial!!! Aku tidak boleh mati konyol disini,” pikir Enmey. Lantas ia mencoba untuk menggerakkan tangan kanannya secara perlahan. Ia meraih botol hijau berisi arak yang selalu menggantung di lehernya. Dengan cepat ia menghabiskan seluruh arak yang berada di botol itu lalu bersendawa keras kearah salah seorang anggota partai ular hitam yang berada di dekatnya,
Seluruh perhatian mengarah ke Enmey yang tubuhnya berdiri sempoyongan dan wajahnya sedikit merah. “Bocah tidak tahu adat! Tak bisakah kau menjaga sikap saat menanti ajalmu?!!!” Seru salah seorang yang berbaju hitam dan berpostur tubuh paling tinggi diantara kawanannya. Lima orang sudah siap dalam formasi lingkaran untuk menghabisi nyawa Enmey dalam sekejap. Sesaat kemudian lima orang itu sudah menyerang dengan cepat, mereka menyerang dari segala arah dan menusukkan pedangnya ke arah dada Enmey.
Kejadian ini sungguh diluar dugaan, Enmey mengeluarkan suara aneh dari nafasnya, bagaikan jurus pamungkas milik Ouw Yang Feng di “Pendekar Rajawali”. Suara itu sedikit mirip seperti suara orang yang sedang kumur-kumur. Kelima musuhnya menarik kembali serangan mereka karena bingung dengan kelakuan Enmey. Sejurus kemudian kelima orang tersebut telah jatuh terjelembab di tanah dengan kondisi yang menggenaskan.
“Tidak mungkin! Bocah itu!!! Ilmu sesat!!!!” teriak Wu Long yang merasa panik karena melihat kemampuan misterius milik Enmey. Peristiwa yang baru saja terjadi dalam sekejap itu sulit sekali dilukiskan dalam pikiran orang biasa. Tetapi Pak Makoto yang berilmu tinggi dapat melihatnya dengan jelas. Enmey tampak memuntahkan gumpalan tenaga dalam yang dashyat dari mulutnya ke tanah dan terjadi getaran udara hebat yang dapat menghabisi lawannya dalam sekejap. Secara fisik lawannya tidak terlihat terluka sama sekali, tetapi seluruh organ-organ dalam tubuh mereka telah hancur. Enmey masih berdiri sempoyongan, bisa disimpulkan kalau jurus yang baru saja ia gunakan telah menguras habis tenaga di dalam dirinya. Beberapa anggota Ular Hitam menjadi geram, mereka hendak menebas leher Enmey saat itu juga. Tetapi Wu Long melarang mereka, ia takut akan muncul korban lebih banyak lagi.
Lalu ia mulai memberi instruksi ke kawan-kawannya untuk mundur. Sesaat terlihat wajah Afen diantara para anggota partai Ular Hitam yang baru saja bergerak mundur ke dalam hutan di depan kebun sayur itu.
———————— ————————- ————————————— ————–
Udara di malam hari yang dingin membuat Atse tidak betah untuk berdiam diri di rumahnya yang berada di tengah-tengah desa. Terdengar suara nyaring gitar anak tetangga sebelah rumah yang sedang memainkan lagu “Mulai” dari band Gigi Tonggos Pepe yang sedang populer saat itu. Sebenarnya Atse sangat menyukai lagu itu, anehnya ia segera pergi keluar dari rumahnya dan berlari ke arah pintu keluar perumahan Polli Tengah. Bisa jadi ia merasa iri karena permainan gitarnya yang buruk, tidak mungkin bisa memainkan lagu populer seperti itu. Lagipula di sekolah pun ia masih kalah jauh dengan teman-temannya, khususnya dengan Teppei yang semakin hari semakin handal.
“Hmmm, seandainya aku bisa main gitar dengan baik seperti anak tetangga tadi….” Atse berkata kecil sambil berjalan dengan santai kearah pusat kota. Beberapa menit kemudian ia sudah sampai di pusat kota yang ramai, terlihat tidak habis-habisnya para pengunjung yang berlalu-lalang di sana. Gedung-gedung pencakar langit terlihat berkilauan di malam hari karena lampu-lampunya yang bercahaya indah. Di pinggiran jalan utama, terlihat banyak tenda-tenda restoran kecil yang tidak kalah hebohnya. Para pelayan restoran sedang sibuk melayani pelanggannya dengan ramah. Suara gesekan spartula dan kuali yang nyaring terdengar dari segala arah, sungguh meramaikan suasana di malam hari.
Dari kejauhan tercium wangi daging babi panggang yang membuat Atse tertarik. Sejurus kemudian ia sudah duduk di pojok tenda, menyantap daging babi panggang yang harum karena dilumuri mentega, ditambah lagi daging itu disajikan dalam kondisi hangat dan masih fresh dari kuali. Sungguh makanan yang pantas disantap di malam hari yang dingin. Tiba-tiba Atse teringat sesuatu !! “Tidak!! Tidak mungkin, aku lupa membawa dompet !!” Atse berteriak keras dalam hati. Ia mulai melirik ke segala arah, berusaha mencari jalan keluar.
Beberapa ide terlintas di pikirannya, salah satunya adalah berikut,
*Atse mendekati sang pemilik restoran lalu bertanya sambil memegang perutnya erat-erat,”Pak, toiletnya dimana ya?” Ia sudah tahu di restoran tenda-tenda pinggir jalan seperti itu tidak mungkin ada toilet, maka bisa jadi alasan untuk pergi keluar tenda dan lari.
Tetapi ia segera mengurungkan niatnya setelah melihat raut wajah sang pemilik restoran yang terlihat sedang kesusahan. Air mukanya mencerminkan hatinya yang sedang sedih. Pemilik restoran tenda itu adalah seorang lelaki tua yang rambutnya sudah beruban. “Aku bisa kena musibah bila berbuat jahat pada kakek ini”, pikir Atse.
Tiba-tiba pikirannya teralihkan oleh suara jeritan kakek itu. “Kurang ajar! Kau makan tetapi tidak mau bayar dan malah lari!!!” Atse terkejut bukan main, ia menyangka kakek itu mengetahui akal liciknya, tetapi ia keliru. Ternyata di restoran itu ada yang sudah melakukan ide yang serupa!! Seorang laki-laki gemuk yang menguasai ilmu meringankan tubuh berlari menjauh dari restoran itu.
Atse segera memanfaatkan kesempatan itu dan berkata,” Huh dasar orang tidak tahu malu, baru mengerti sedikit ilmu silat saja sudah melakukan untuk hal-hal buruk!! Tenang saja paman, biar kukejar orang itu !!” Ia menepuk bahu kakek itu lalu keluar dari tenda restoran dan memperlihatkan ilmu meringankan tubuhnya yang cukup baik dengan melompati gedung-gedung pertokoan. Kakek itu tampak sangat senang dan berdiri menatap kepergian Atse.
Orang gemuk yang tadi mengira tidak ada yang mengejarnya, tetapi ia keliru. Dari arah belakang sebatang sumpit melesat kearahnya dengan kecepatan tinggi. Telinganya mendengar suara aneh yang tidak diketahuinya. Lantas ia menoleh kebelakang dan sumpit itu mengenai dahinya dengan keras. Pletak!!! Lalu ia jatuh ketanah dan merintih kesakitan. “Dasar sialan! Siapa kau?!” tanya orang itu dengan menatap tajam Atse. Orang itu terjaruh diantara pohon-pohon jagung, tampak penerangan sangat buruk disana, kebun jagung itu hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak yang berada di atas tiang yang tertancap di tengah kebun.
“Tidakkah kau merasa bersalah setelah mencuri makan seperti itu?” Tanya Atse dengan nada menyindir. Orang itu terdiam sejenak lalu menunduk.
** “Waduh-waduh! Dasar !!! Sebaiknya kau bercermin saja Atse, siapa yang makan tidak bayar selain orang itu coba ??!!” Seru sang penulis cerita ini di dalam hatinya.
Dengan santai Atse berjalan mendekat, ia merasa sudah menang dan berkata kembali,” Sebaiknya kau berikan saja sedikit uang kepada kakek sang pemilik restoran, maka kau juga akan kulepaskan. Kasihan kakek yang sudah tua itu, tampaknya ia sedang terkena masalah berat.”
Lawan pun memanfaatkan kesempatan yang terbuka lebar ini, dengan cepat ia menerjang kearah Atse dan mencabut belatinya. Atse terkejut setengah hidup dan secara refleks ia berusaha menotok bagian dada lawannya, tetapi terlambat. Mata pisau belati yang bercahaya biru di malam hari tinggal beberapa senti lagi sudah membutakan mata kanannya. Semuanya terjadi begitu cepat, Atse merebahkan diri kebelakang dan terlihat pasrah. Tanpa sadar tangannya beraksi secara refleks menotok ketiak orang yang bertubuh gemuk itu. Rasa kesemutan di tangan mulai menjalar ke seluruh tubuh lawan, beberapa saat kemudian ia jatuh kedepan menimpa tubuh Atse dengan keras. “Argh!!! Gila kau…… !!!” Atse menjerit kesakitan, lalu suaranya menghilang.
Atse merasa sekujur tubuhnya menjadi lemas karena jatuh tertimpa tubuh lawan yang gemuk.
Keduanya terjatuh tak sadarkan diri…..
————————– ———– ————————–
Esok paginya saat waktu menunjukkan pukul Lima, Atse terbangun, lawannya sudah tidak dalam posisi sedang menimpa tubuhnya lagi, lelaki bertubuh gemuk itu sedang tertidur pulas disamping dirinya
.
Ia sungguh bersyukur karena tidak jadi kehilangan mata kanannya, ia masih terbayang-bayang oleh pisau belati lawan yang sedikit lagi membuat dirinya cacat. Namun ia teringat bahwa hari ini adalah hari sekolah, lantas ia berlari keluar kebun jagung itu dan menuju ke rumahnya. Setelah tiba dirumah tercintanya, ia segera melepaskan pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Entah kenapa ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya ingin sekali menoleh kearah cermin. Akhirnya Atse mengikuti nalurinya, dan menoleh kearah cermin dengan santai.
Suara jeritan histeris memecahkan keheningan di perumahan Polli Tengah. Burung-burung gereja yang tadinya hinggap di atap rumah Atse, sudah terbang semua. Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi lantas berganti pakaian seragam. Ia mengambil sebuah kacamata hitam besar seperti yang biasa dipakai oleh para tukang pijat yang buta. Saat kacamata itu dipasangkan di wajahnya, sambil bercermin ia berkata singkat,”Semoga tidak ketahuan”.
——————- —————————- ————————- ——————————-
Di tengah perumahan Timun Sendawa Gelap, ada sebuah lapangan rumput besar yang dulu seringkali dipakai untuk bermain sepakbola kungfu sehingga selalu ramai oleh anak-anak, tetapi kini gawangnya sudah rusak, sejumlah rumput-rumput liar sudah tumbuh disana. Suasana di lapangan rumput sungguh sunyi senyap. Tetapi pagi itu sungguh merupakan suatu saat yang menyenangkan. Saat itu tidak disia-siakan oleh pendekar Tai Chi yang sudah dinanti-nantikan kemunculannya oleh para pembaca. Ya! Dia adalah Chun Mi. Terlihat dengan jelas ia sedang berlatih Tai Chi di tengah lapangan, ia tidak sendirian. Puluhan orang lanjut usia berdiri mengelilinginya dengan membentuk formasi lingkaran. Mereka berlatih bersama, dengan sang suhu Tai Chi yang berada di tengah-tengah mereka.
Gerakan-demi gerakan dilakukan dengan lemah lembut, tetapi seringkali orang biasa tidak menyadari bahwa dibalik ilmu yang terlihat seperti senam kakek-nenek itu terdapat suatu tenaga dalam yang sungguh hebat. Ada pepatah Cina yang mengatakan,” Jika melatih ilmu Tai Chi dari kecil, umur bukanlah masalah.” Karena para ahli Tai Chi biasanya terlihat awet muda. Eh, tetapi bukan berarti Chun Mi adalah orang tua yang terlihat seperti anak-anak ya, dia benar-benar masih remaja lho, umurnya baru tujuh belas tahun kalau tidak salah.
Angin pagi hari berhembus dengan kencang, dahan pepohonan tinggi di lapangan itu tergetar bagaikan sedang menari-nari. Jubah kuning yang dipakai oleh Chun Mi berkibar-kibar, tetapi ia tetap terlihat tenang sambil membentuk gerakan-gerakan Tai Chi yang diikuti serentak oleh murid-muridnya yang 80% merupakan nenek-nenek.
Atse yang sedang bersepeda hendak pergi ke sekolah, lewat di pinggir lapangan itu. Ia menghentikan laju sepedanya dan terkagum-kagum dengan pemandangan itu. Lantas setelah menyenderkan sepedanya di pinggir pohon cemara besar, ia berjalan mendekat. “Maaf nek, itu ilmu Tai Chi kan?” Atse bertanya pelan ke seorang nenek yang berdiri di dekatnya. “Iya, kenapa de? Mau ikut latihan?” nenek itu menjawab dengan ramah. Atse menjadi sedikit malu dan menjawab,” Oh engga, mungkin lain kali saja nek, saya harus pergi kesekolah.”
Mata nenek itu memandang kearah mata Atse dengan tajam. Seakan-akan ia dapat melihat tembus kacamata hitam yang dipakainya. Atse mencoba untuk menghindari tatapan nenek itu dan hendak mohon diri. Tiba-tiba nenek itu menepuk bahunya pelan, dan bertanya,” Alis mata kananmu kenapa dik?”
Tangan kiri Atse bergerak secara refleks untuk menutupi mata kanannya. Sambil menggaruk-garuk kepala ia menjawab,” Kemarin saya potong rambut di tempat pangkas rambut X, tukang potongnya enggak bener! Saat potong rambut saya dengan mesin otomatis, dia sambil nonton sinetron! Alis saya jadi tercukur begini deh.”
Nenek itu hanya mengangguk pura-pura percaya dengan perkataan Atse. “Syukurlah kalau begitu!”
Atse berniat berjalan menjauh karena rasa malu yang meledak-ledak di hatinya.
“Sial! Hebat betul mata nenek itu, alis mata kananku yang botak terlihat jelas olehnya, kata Atse dalam hatinya.
Lantas ia berkata pelan,”Saya pergi sekolah dulu ya, terima kasih”. Nenek itu hanya memandangi kepergian dirinya dengan memasang ekspresi menahan tawa di wajahnya. “Hahah, dasar anak muda zaman sekarang, apa model alis botak sebelah sedang trend saat ini?”
Atse mengayuh sepedanya sekencang mungkin, angin kencang dari arah depan menyusup kedalam bajunya. Beberapa saat kemudian, jalanan itu menurun kebawah kearah sebuah hutan kecil. Dengan santai ia memelankan laju sepedanya dan bergaya bersepeda tanpa memegang kendali. Diambilnya jam tangan “Swiss Army” palsu bikinan Cina dari saku celana dan ia pakaikan di tangan kanan.
Dedaunan pohon dari pepohonan lebat yang tumbuh di pinggiran jalan berjatuhan memenuhi jalanan. Suara roda sepeda memecah keheningan di hutan itu. Biasanya saat musim kemarau, akan ada banyak ular-ular tanah yang meramaikan jalanan.
Sesekali Atse merasa sepedanya terguncang pelan karena menlindas sesuatu yang cukup besar. Mungkin kalau ia turun dari sepeda dan mengecek apa yang baru saja dilindasnya tadi, akan terjadi sesuatu yang mengasikkan. Setelah melewati hutan kecil, dari jarak yang cukup jauh, terlihat samar-samar gedung sekolah Polli College yang besar, dengan jam raksasa di gedung utamanya. Walaupun jam itu lebih sering dianggap sebagai hiasan, karena waktu yang ditunjukkannya tidak pernah tepat. Sekolah Pillo College cukup besar, gedung sekolahan dicat dengan warna kuning muda dan putih, sebuah komposisi warna yang sebenarnya tidak terlalu menarik, tetapi ya sudahlah.
Puluhan murid memasuki gerbang sekolah dengan bermacam-macam transportasi. Ada beberapa anak yang diantar dengan mobil mewah atau sepeda motor dan sisanya mengendarai sepeda. Peraturan di sekolahnya ketat juga, tidak boleh mengendarai mobil dan tidak boleh membawa telepon genggam, walaupun boleh kalau tidak ketahuan. Oh ya, ada lagi! Anak laki-laki tidak boleh berambut panjang. Peraturan itulah yang paling dibenci oleh Atse. “Kaum laki-laki di Asia sudah sepantasnya berambut panjang, setidaknya seleher. Bagaimana mungkin sekolah ini tidak mengerti tradisi yang sudah dijaga sejak dulu oleh leluhurku?” begitu pikirnya.
Sesaat kemudian, setelah memarkir sepedanya Atse berjalan memasuki pintu gedung utama. Saat melangkah masuk, terdengar suara lagu “Orang-orang butuh Tuhan” yang cukup keras dari dalam gedung sekolah. Memang Polli College adalah sekolah yang cukup bagus nilai keagamaannya bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya. Beberapa jurus kemudian Atse sudah masuk ke kelasnya dan meletakkan tas miliknya di meja. Suasana kelasnya di pagi hari memang selalu sunyi senyap. Yue Em sedang membaca buku pelajaran. “Emangnya nanti kita ada ulangan?” tanya Atse. Yue Em menghela nafas lalu berkata,” Enggak ada kok, cuma iseng-iseng baca aja”.
Brolly yang sedang duduk di meja memotong perkataan Yue Em,” Dia suka baca buku tebal, lama-kelamaan ia akan mengikuti kondisi bukunya.”
“Tipis diem deh!” bentak Yue Em.
“Tipis?” Atse terkejut. “Tipis…. Tipis….. Tipis…. maksudnya apa???” tanya Atse.
Brolly menjawab dengan santai tanpa pikir panjang sambil memandang kearah wajah Atse,” Maksud dia badanku tipis, alias langsing …….. seperti …. alismu……”
Brolly tersentak kaget dengan perkataannya sendiri yang keluar secara spontan. Apalagi Atse yang tersentak dua kali lebih keras dan rasa malu kembali merasuki dirinya. Keringat bercucuran di wajahnya yang menjadi merah.
“Eh, eh.. kok… Alismu kenapa Tse?” tanya Brolly yang heran setelah memperhatikan alis Atse. Seluruh kelas menjadi diam… kemudian suara puluhan tawa meledak-ledak di ruangan itu. “Anu… kemarin aku…. potong rambut di X, lalu tukang cukurnya salah cukur karena ia sambil nonton …”, Atse berusaha memberi penjelasan karangannya, tetapi suara ledakan tawa di kelas menelannya.
Dari awal pelajaran hingga akhir pada hari itu, puluhan ejekan dilontarkan padanya. “Hari yang sangat menyebalkan!” seru Atse sambil berjalan lesu kearah sepedanya yang diparkir di halaman belakang sekolah. Sesuatu yang janggal terjadi. Puluhan murid-murid mengerumuni tempat parkir sepeda, sepertinya terjadi sesuatu. “Mungkin hanya kecolongan sepeda,” begitu pikirnya. Tetapi setelah ia melihat seluruh sepeda yang diparkir disana sudah berubah menjadi puing-puing, alias dihancurkan…. sorot matanya berubah total.
Ada beberapa anak yang terlihat putus asa, ada juga yang merasa kesal sambil menendang sepedanya yang hancur. “Sial!!! Sepeda baru hadiah ulang tahunku!” jerit seorang bocah kecil yang berada di samping Atse. “Siapa yang mencari masalah dan berbuat demikian?”
“Bagaimana ini? Bisa-bisa aku disunat orangtuaku!”
Berbagai ungkapan dilontarkan oleh para murid yang sepedanya dihancurkan. Tiba-tiba seorang murid pria berlari keluar dari kerumunan. Lantas ia berteriak kesal,” Dimana para satpam sekolah???!! Dasar tidak berguna!!!”. Sesaat kemudian terlihat asap hitam mengepul-ngepul di udara dari arah gerpang utama sekolah Pillo College. Atse melupakan sepedanya dan segera berlari kearah gerbang utama sekolah dengan ilmu meringankan tubuhnya. Orang-orang berlarian ke arah yang berlawanan, suara jeritan terdengar dari arah depan.
“Apalagi yang terjadi?” pikir Atse yang merasa bingung dengan suasana di sore hari itu. “Atse! Atse!” suara Hok Ling terdengar dari belakang. Ia berhenti lantas menoleh kebelakang. Hok Ling menunjuk ke atas, kearah menara utama sekolah dimana jam raksasa berada. Tepat dibawah jam raksasa, terlihat samar-samar tulisan berwarna hitam, Atse mencoba untuk membacanya. Tetapi silaunya cahaya matahari membuat pandangannya terganggu.
“Terlalu terang, aku tak bisa membacanya Hok!” . Hok Ling mengangguk,”Tapi jangan pergi ke gerbang utama, terlalu ramai dan sepertinya terdengar suara mesin meledak, sebaiknya kita mencari tempat yang aman dulu, setelah situasi lebih baik kita pulang.”
Sambil berjalan ke kantin sekolah Atse bertanya,” Menurutmu siapa yang melakukan ini? Teroris kah?”.
“Hmmm.. sulit untuk diterka, entahlah,” Hok Ling hanya menjawab singkat.
Suasana di kantin yang sudah tutup saat jam sekolah selesai sungguh sepi, hanya tersisa beberapa murid yang sedang duduk santai sambil SMS-an, atau bercakap-cakap dengan temannya. Atse mengambil tempat duduk dekat jendela lalu melirik sekilas kearah jam tangannya. Pukul setengah empat sore. Tanpa sengaja Atse melirik keluar jendela dan……
“Hok! Tulisan yang tadi terbaca dari sini coba kau lihat sini.” Hok Ling mendekat kearah jendela lalu mulai mencoba membaca tulisan-tulisan itu.
“KeLuAr 30 LaNgkah daRi pErbAtasAn SeKoLaH = MaTi “
Atse dan Hok Ling tercengang. “Gaya bahasa alay, tetapi seakan-akan itu ada kesan yang terikat dengan ilmu silat, di bagian 20 langkah itu,” kata Hok Ling. Atse menyahut,”Melihat sepeda-sepeda yang dihancurkan secara brutal tadi, aku rasa ini bukan perbuatan iseng, ini adalah ancaman.”
“Jadi ini seperti sekolah Hogwarts di dunia Harry Potter yang diserang oleh kawanan pelahap maut milik Voldemort?” Tanya Hok Ling sambil tertawa. “Tapi situasinya beda, seharusnya pihak sekolah sudah menghubungi polisi atau pihak keamanan lainnya, sedangkan Hogwarts tidak minta bantuan siapa-siapa.”
Tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari puluhan amplifier yang dipasang hampir di seluruh bagian sekolah. “Seluruh anggota sekolah dan orangtua murid harap masuk kedalam gedung sekolah! Ini kondisi darurat, diulangi sekali lagi, bagi para orangtua dan anggota sekolah diharap segera masuk ke dalam gedung sekolah!”
“Kantin termasuk gedung sekolah kan?” Atse bertanya dengan suara keras. “Iye!” sahut seorang murid pria yang mengambil tempat duduk di dekatnya. Ekspresi wajah orang itu terlihat seperti sedang sedih atau ngambek. Memang dia adalah teman sekelas Atse yang …….maaf…. suka ngambek. “Aah!! Sebel aku!! Sepeda hancor, sekarang gak bisa keluar dari sekolah!” Ia berteriak dengan logat Jawa yang kental. Ia bernama Kiske, tubuhnya kurus dan tingginya kira-kira 170cm, dengan alis mata tebal nan garang, dan sorot matanya tajam.
“Yah sudahlah, sepedaku juga hancur, nanti kita cari pelakunya dan kita selesaikan dia bersama.”
—————————————–
Kembalinya Sang Pendekar Sejati
selesai. nantikan bagian selanjutnya